Minggu, 20 April 2014

Office Cutie 5 : Ujang Nungging, Doggy Style

Ayhwa
Hari Senin yang sibuk dimana setiap orang terbebani oleh tugas yang menumpuk, seorang office boy yang sudah mumpuni dalam bidang pekerjaannya tersenyum lebar sambil mengetuk sebuah pintu, siapakah Obe yang rajin dan baik hati itu ? he he he OBe itu ada-lah aku, UJANG si ganteng ,baik hati ,ramah, berwibawa ,gagah ,pemberani ,dan cekatan! Akulah Obe masa kini , Obe plus plus ,  he he he he…!!
“Tok.. Tokkk.. Tokkkk” tangan kiri-ku mengetuk sebuah pintu berwarna coklat muda sementara tangan kananku membawa sepiring nasi goreng seafood untuk kekasih baruku, si pengantin baru yang cantik jelita.
“Masukkk…..” sebuah suara merdu menyahut dari dalam ruangan itu.
Daguku terangkat ke atas mirip seperti seorang koki profesional ketika memasuki ruangan Non Ayhwa sementara sesuatu mulai menggembung menyesaki selangkanganku, sesak tapi terasa nikmat.
“Lagi ngapain sich Non??” mata-ku melotot memperhatikan Non Ayhwa yang sedang serius bekerja. Buset dah tuh angka banyak amat, ck ck ck.
“Biasa…bikin laporan laba-rugi” si cantik sepertinya tidak mempedulikan kehadiranku ketika aku mendekatinya.
Ia tampak sibuk sesuai dengan bidangnya, per-Akuntansi-an he he he..
“Non.., sarapan dulu…, nanti sakit lohhh….”aku berdiri tepat di samping kursinya, sesuatu di balik celana dalamku berontak, ber-kudeta ria, kusodor-sodorkan tubuh bagian bawahku, maju-mundur untuk menggodanya.
“Nich yang bikin sakit…..!! “
“UAADOWWHH……!! Sakit Nonnn….!!.uuHsssshhhh,” aku mengaduh, bibir tebalku meruncing ketika Non Ayhwa menyikut selangkanganku yang sedang  bergoyang  berusaha untuk menggodanya dengan ‘tarian Indiaku’ yang terkenal, tubuhku tertekuk membungkuk kesakitan sambil memegangi gembungan di selangkanganku.

“Biar bikin sakitttt. Tapi Non Ayhwa sekarang pasti suka kan sama yang gede-gede…, Ketagihan ni yeeee….. he he he “ aku mencubit kecil pipinya yang lembut.
“Sembarangan!“ dengan tegas Non Ayhwa menepiskan tuduhanku namun wajahnya yang cantik merona merah karena malu, jemarinya yang lentik bergerak dengan lincah menekan-nekan tuts keyboard.
Setelah menutup pintu rapat-rapat aku menghampirinya dan membuka resleting celanaku kemudian membetot sebatang sosis besar milikku yang berwarna hitam kecoklatan untuk segera keluar dari dalam sarangnya, dengan rasa Pe-De yang tinggi kusodorkan batang penisku yang sudah mengacung dengan gagah perkasa.
“UJANG…!! Apa-apaan sich kamu, …!!”
“He he he, Non Ayhwa-kan jago ngitung, nahhh tolong diitungin berapa lembar bulu jembut diselangkangan saya, takut rugiii….kalau laba sich nggak masalah kali yak? Non kok diem sichhh…??Ayo dong Nooonnn….dihitung he he he he“ aku mengacung-ngacungkan batang penisku di samping wajahnya, kuayunkan ke kiri dan kanan.
Buseeetttt….DAH!! Nona Ayhwa sama sekali tidak menggubris batang penisku, jadi malu nehh ^_^, masa didiemin begini ??, aku menggaruk-garuk kepalaku, agak serba salah juga rasanya ketika si pengantin baru malah bersikap acuh tak acuh terhadap ujang junior yang teracung-acung bengong mematung di selangkanganku
“Akhirnyaaaaa…. Beressssss….Emmmmppphhh“
Sebuah senyuman mengembang di wajahnya yang jelita, kesepuluh jari Non Ayhwa saling terkait kemudian tangannya terentang ke atas, tubuhnya menggeliat-geliat untuk mengusir rasa pegal di pagi hari yang indah ini, aku semakin bernafsu, mataku berkeliaran merayapi tubuh Non Ayhwa.

“beres apanya Nonnnn?? Saya  belum beres nich!! Ayo donggg Nonnn!” Aku merengek–rengek agar si cantik ‘segera kembali bekerja’ membereskanku yang masih nggak puguh nasibnya ditengah jilatan-jilatan hawa nafsu.
“Enak aja nyuruh-nyuruh…yang jadi Obe itu kamu atau saya??” ia menyindirku, aku buru buru meliukkan pinggulku ketika sikutnya hendak kembali mematil “The little Ujang.”.
“Yaaaa…, kalau di urusan kerjaan mah saya Obe-nya, tapi kalau urusan ranjang sich, Non Ayhwa yang jadi office girl-nya, saya suruh ngangkang nurut, saya suruh nungging juga nurut, disuruh nyepong juga nurut, iya kan Non ??” aku menjawab sambil mencubit kecil hidungnya.
“Dasar, bisa aja kamu ini, yawdah, sini!!, duhhhh kacian sampe nangis begini…“ telapak tangan kanan Non Ayhwa menggenggam batang penisku sementara jemari kirinya mengelus-ngelus kepala penisku dengan lembut, jari telunjuknya mengusap lelehan lendir nafsu di mulut kemaluanku, mataku sampai merem-melek keenakan ketika tangan si pengantin baru meremas dan mengocoki batang penisku.
“Enak ya Jang…..?”
“Enakk Nonn, enakkkk, terus Nonn, ,Uh-non, Uh..”
“Happpp….!! Slllcckk Ckk Sllccckkk… Happp..!!mum-hh”berkali-kali Non Ayhwa menjilati dan mencaploki penisku.
“Uh-uh, walahhh…..tobattttt….!!Urhh-hssshh” mataku mendelik saat mulutnya menggigit-gigit nakal kepala penis-ku kemudian kepalanya bergerak maju-mundur sambil melakukan hisapan-hisapan kuat setelah meludahkan kepala penisku batang lidah Non Ayhwa yang basah dan hangat terayun-ayun menggelitiki leher penisku, dengan gemas ia meremasi buah zakarku hingga aku meringis antara ngilu dan nikmat.

“Ckk. Ckkk, umm-emh cuph, Darso kemana jang ??Ck mmh Ckk“ sambil menjilati dan mengecupi penisku Non Ayhwa menanyakan keberadaan Darso.
“Dia lagi sibuk..”
“Sibuk ngapain ?? kerja ??“
“Nanti dech Non, saya jelasin, tapi sekarang ini dulu dong say, konsentrasi….” aku terkekeh sambil menunjuk ke arah selangkanganku., Non Ayhwa menarik-narik rambut jembutku kemudian, cuphh-cuphh-cuphh…, diciuminya kemaluanku mulai dari buah zakarku terus merambat naik hingga kekepala penis saat lidahnya membelit memutari kepala penisku tiba-tiba sebuah sms mampir di handphoneku.
“janggg, jangan kasar-kasar sama Non Ayhwa, AWAS LU…!!” aku membaca sms yang berisi ancaman untukku, rupanya Darso mengkhawatirkan keadaan Non Ayhwa.
“Tenang , cuma nyicip dikit  koqq…., gimana udah hasil sama Non Vania & Non Shasha…??” aku mencoba membalas sms dari Darso di tengah nikmatnya permainan Non Ayhwa pada bagian penisku.
Tak berapa lama, handphoneku kembali bergetar. Ternyata balasan dari Darso, “Belon Jang, gua rada grogi nihh…nggak berani ngedeketin mereka….”
“Waduhhh… Bilang aja ada kiriman hadiah dari gua, mereka pasti ngerti koq….” balasku lagi.
“Gua ngak berani Jang…..!!”
“parah LU…..!!ya udah ntar aja ,  lagi asik nih , tanggung, jangan ganggu dulu ah…” aku mematikan handphoneku kemudian meletakkannya di pinggiran meja, tanganku mengelus rambut hitam Non Ayhwa yang indah, kumasukkan penisku kedalam mulutnya.

“Ummmhhh… mummmpphh, Ckk.. Ujaaanggg, gede amat sich, Emm-hhhmmm…,Mufffhhhhh…”
Non Ayhwa semakin aktif memaju-mundurkan kepalanya sambil melumat Ujang junior habis-habisan, tangan Non Ayhwa yang lembut tak henti-hentinya mengocoki batang penisku. Kutarik penisku dari cengkramannya lalu kusuruh Non Ayhwa bersandar ke belakang, kedua kakinya yang mulus mengangkang ketika aku bersujud di hadapannya, bola mataku  mendelik, menatap sesuatu yang indah, sesuatu yang tanpa penutup lagi, vagina Non Ayhwa!!, ohhhh betapa indahnya belahan di selangkangan Non Ayhwa. Belahan bibir vagina si pengantin baru sedikit merekah hingga membuat aku terpana menatap kemolekan liang vaginanya.
“koq cuma diliatin sihh!?? Kalau nggak mau ya sudah ah” tiba-tiba Non Ayhwa mendesis ketus, ia hendak merapatkan sepasang pahanya yang mulus, dengan panik aku buru-buru menahan paha Non Ayhwa yang mulus.
“Duhh, Non, galak amat, udah ngak sabar ya…??celana dalamnya di kemanain Non?? ketinggalan di rumah?? cuuphh cuphhhh cuphhhhhhh Cuphhh.. Muahh Cupphhhh….”
Sambil kutahan kedua kakinya yang hendak merapat kuciumi pahanya bagian dalam kemudian setelah puas kutenggelamkan wajahku pada selangkangan Non Ayhwa, kujilati belahan vagina Non Ayhwa yang harum berkali-kali kucaplok vaginanya hingga si cantik menahan nafas keenakan, ia berusaha menjawab pertanyaan isengku sambil memukul kecil pundakku kemudian menyodorkan vaginanya.
“Nggak usah pura-pura ngak tahu githuu…dech,Hssshhh kan kamuhhh yang nyuruh aku ngak usah pakai celana dalam,  Hssshhhhh”

Di sela suara desisan-desisannya, Non Ayhwa menjawab pertanyaan isengku, ia meringis nikmat ketika jemariku menguruti dan menekan bibir vaginanya, lidahku segera terjulur keluar menggapai klitorisnya, kusapu dengan lembut, dengan lembut batang lidahku membasuh daging mungil itu hingga ia mendesah pelan, kukait-kait dengan ujung lidahku dan kuemut-emut daging kelentitnya, kulumat – lumat bibir vagina Non Ayhwa dengan rakus, kulahap vaginanya hingga ia menggelinjang-gelinjang kegelian, mengejang menahan rasa nikmat.
“Non, duduk disini Non, sekalian roknya naikin” aku menepuk-nepuk pinggir meja kerja Non Ayhwa.
Jantungku berdetak kencang ketika ia menuruti perintahku, ia duduk di pinggiran meja sambil menaikkan rok mininya, sementara sepasang pahanya mengangkang pasrah. Kutundukkan wajahku kemudian sambil melumat bibirnya dengan lembut kugesekkan kepala kemaluanku pada belahan vaginanya,
“Slethhh,Sletthhh… Slettthhhhhhhhh” beberapa kali  kepala penisku menggesek belahan vagina Non Ayhwa yang semakin licin, kepala penisku yang besar tergelincir ketika berusaha menembus cepitan vaginanya. Kugesek-gesek lagi, kemudian kutekan dengan lebih hati-hati, Non Ayhwa membuka kedua kakinya selebar yang ia mampu sambil menyodorkan vaginanya menyongsong tekanan kepala penisku, perlahan namun pasti dengan susah payah kepala penisku yang besar mulai dapat membelah belahan liang vagina Non Ayhwa.
“Hmphhh….” Ayhwa menggigit bibir bawahnya sendiri untuk menahan jeritan yang hampir keluar ketika sesuatu menyeruak kasar memasuki cepitan liang vaginanya, kedua tangannya berpegangan pada pundakku, matanya yang sipit membeliak kemudian perlahan-lahan terpejam menikmati sebatang penis besar yang tengah membelah vaginanya semakin dalam.

“Hhh.. Hhhhh… pelan-pelan Ujangg…pelannn, adu-duhduh, ngilu Jang, ngiluuu awwwwhhhh….!!”
“Ini udah pelan nonn…, pelannnnnn….banget kan ?? Pssssttt, jangan terlalu berisik sayanggg, ntar kalo ada yang denger gimana ?”
Kusentak-sentakkan batang penisku dengan lebih cepat untuk menggoda Non Ayhwa yang terdesak-desak kewalahan, wajahnya merona merah, desah nafasnya semakin memburu tertahan-tahan. Kuaduk-aduk liang vaginanya hingga Non Ayhwa terperanjat dan mengeluh, kutusuk dan terus kutusukkan batang penisku sekuat yang aku bisa, sambil memacu batang penisku kuat-kuat, aku menatap tajam wajah Non Ayhwa yang cantik khas oriental, wajahnya semakin cantik ketika ia terperanjat-peranjat keenakan, mulutnya ternganga seperti hendak mengucapkan huruf  “A”, tiba-tiba tubuhnya mengejang-ngejang resah seperti menahan sesuatu, kupercepat irama sodokan-sodokanku, sementara tanganku mencekal pinggulnya, kugempur liang sempit Non Ayhwa dengan kecepatan penuh.
“Ah-crrttt… crrttttt……”
Tubuh molek Non Ayhwa menggeliat nikmat, aku terpana menatap wajahnya yang renyah, butiran keringat meleleh di lehernya yang jenjang, matanya yang sipit membeliak kemudian menatapku dengan sendu sambil tersenyum manis, telapak tangannya  mengusap rambutku. Aku tersenyum penuh kemenangan kemudian dengan gerakan yang cepat penuh nafsu kedua tanganku mencekal tungkai lutut kanan dan kirinya, kukangkangkan kedua kakinya selebar mungkin ke atas hingga punggungnya jatuh ke atas meja kemudian pinggulku kembali terayun maju-mundur dengan cepat dan kuat, kusodok-sodokkan batang penisku menusuki liang Non Ayhwa yang becek nikmat,lelehan cairan puncak klimaks Non Ayhwa membuat lubang sempit itu banjir oleh lendir-lendir putih yang lengket-lengket licin

Suara becek terdengar semakin nyaring ketika aku memompa vaginanya, kutusuki belahan vaginanya dengan liar dan kasar, kupompakan batang besarku berselancar sepuas-puasnya di liang kenikmatan Non Ayhwa hingga ia mendesis-desis tertahan
“Essshhhhh… UUj-JhanGGnnnggghh..crrrtt crrrrrr..urhh-hsshhh.” Ayhwa mendesah dan mendesis panjang, matanya terpejam-pejam sesekali terdengar rintihan lirihnya, vaginanya berdenyutan kuat menyemburkan lendir-lendir kenikmatan.
Tanpa memberinya kesempatan untuk menyesuaikan diri, kedua tanganku segera menyangga buah pantatnya yang bulat padat, kutatap wajah cantiknya, kukecupi kedua mata sipitnya yang memandangiku dengan tatapan mata yang sayu kemudiannn….kuhajar liang vaginanya dengan tusukan tusukan batang penisku, berkali-kali wajah si pengantin baru terangkat ke atas menahan rasa nikmat ketika penis besarku mengoyak-ngoyak liang vaginanya yang peret. Kuaduki liang vaginanya hingga ia meronta kenikmatan, kudesak – desakkan hingga selangkanganku mendesak  selangkangannya. Perlahan-lahan punggungku membungkuk lidahku terjulur keluar kemudian terayun menjilati bibir Non Ayhwa yang sedikit merekah, ia membuka mulutnya lidahnya keluar mengelus dan mengait batang lidahku, kuhisapi lidahnya dengan mesra. Selama beberapa saat kami saling berpandangan dengan tatapan mata sayu sambil menikmati denyutan-denyutan nikmat pada wilayah kami yang terintim.
“Non, punyanya Non Ayhwa enak deh, bikin saya ketagihan…”
“punya kamu juga gede jang, bikin akuuu…..”

“Bikin apa Nonn…??Bilang Nonnn…..bikin apa ??” Aku penasaran.
“Bikin akuuuuuu, keenakan..!!,muachh…!!” Non Ayhwa mengecup pipi kananku, aku membalas kebaikannya dengan mengecupi lalu mengulum bibirnya dengan penuh nafsu , kami berdua saling berpandangan dengan mesra kemudian kembali saling mengecup dan melumat  dengan nafsu yang menggebu.
“emh..! emh! Emh!” suara mulut si pengantin baru yang tersumpal mulutku ketika kupacu liang sempitnya, kusodokan dan kuayunkan batang penisku kuat-kuat dengan gerakan teratur, kunaikkan ritme sodokanku ketika tubuh Non Ayhwa menggeliat resah diatas meja kerjanya, kusodok dan kuhentakkan batang penisku kuat-kuat menghujami belahan vaginanya. Tidak begitu lama kulontarkan tubuh mulusnya ke dalam jurang kenikmatan yang  berlumpur  pekat, penuh desah dan rintihan nikmat yang tertahan.
“EMH…!! Crrrr crrrr….. crrrttttt….Ahssshhh UJANGG…”setelah bibirnya terlepas dari bibirku,tubuh moleknya melenting dengan indah, kedua tangan  sicantik mengibaskan rambutnya ke belakang pada saat yang bersamaan kupacu batang penisku hingga ia menggelinjang dan tersentak menahan denyutan rasa nikmat., tubuh moleknya terus terdesak-desak seirama dengan ayunan batang penisku yang memacu vaginanya dengan kuat.
“Clepp.. Slepphhh.. Plepppphhh…nnn-uhhnn..…..” Semakin kuat aku menyodokkan penisku semakin kuat pula bunyi nyaring yang menggairahkan itu terdengar dan semakin kuat pula Nona Ayhwa mengejang dan menggigil nikmat, lenguhan tertahan terdengar dari bibirnya, tangan kanan sipengantin baru membekap mulutnya sendiri berusaha agar lenguhan dan rintihan kenikmatan itu sedikit teredam. Aku tersenyum  mesum sambil mengaduki belahan vagina Non Ayhwa., kukocek kuat liang vaginanya dengan batang besar di selangkanganku.

“Adu-du-duh Ujanggghhh,, jangan digituinn…., akhu , akhhh seperti diborrrrrrrhhhh… hhssshhhhhh….akkhh Ujhangggg….”
Aku tidak mempedulikan ocehan si pengantin baru, dengan bersemangat kuaduk liang vaginanya yang nikmat hangat. Jantungku berdesir merasakan kedutan-kedutan kuat meremasi batang penisku, selangkanganku terasa lengket oleh lendir-lendir kewanitaan Non Ayhwa.
“Drrrrttthhh… Drrrrrtthh…… Krrrkkk… Clepphh… Cleppphh.. Peeffhh.. Peeffhhhhh…Drrrkkkkkk…Krrrkkkk..Krakkk… Krrakkkkk”
Ada sesuatu yang berderak-derak nikmat ketika aku memutar batang penisku mengaduki vaginanya sementara tubuh Non Ayhwa terperanjat  menahan rasa nikmat , bibirnya  menyemburkan desis-desis kenikmatan yang membuatku semakin bergairah mengaduki belahan vaginanya yang sesekali kukombinasikan dengan menyentak-nyentakkan batang penisku hingga nafasnya tertahan menahan seranganku yang bertubi-tubi menyodoki liang vaginanya yang mungil, tubuh si pengantin baru turun dari atas ketika aku melepaskan cengkramanku, tubuhnya berbalik kemudian bertumpu pada pinggiran meja ketika aku menarik pinggulnya menungging keatas.
“Plekkk… Plekkk Plekkkkk….Plkkkk….” kupukul-pukul bongkahan buah pantatnya yang bulat padat dengan batang penisku, kugesek-gesekkan penisku pada buah pantatnya yang halus lembut kuremas buah pinggulnya beberapakali kemudian kujejalkan kepala penisku membelah belahan vaginanya yang mungil dari arah belakang.
“Plleepphhhhsshhhhh!!UNNHHHH. UJANGGGHH…!!…Akhhhh…!!”
“Psttttt… Nonnn, jangan keras-keras back soundnya.!!” dengan susah payah batang penisku yang besar panjang kembali menyusup memasuki liang vagina Non Ayhwa, Aku berbisik  antara was-was dan horny ketika mendengar lenguhan dan desahan kerasnya.

“ujanggg, pelan pelan dong ahh…, uhhh aduhh….mmmhh mhhhhhh…”
Dengan cekatan dari sebelah kanan belakang aku menyumpal bibir mungilnya untuk meredam keluh kesah Non Ayhwa, sementara batang penisku bergerak liar menyodok-nyodok vaginanya dari arah belakang dengan kuat. Kedua tanganku merayap kedepan kemudian menggenggam payudaranya, kubelai puncaknya hingga ia menggelinjang kegelian, kupeluk erat-erat tubuh mulusnya yang gemetar menahan sesuatu…..
“Hmuuufffhhhh Crrettttt… Crrrrrrrrrrrrrtttt…..sudah Ujang, sudah, aku sudahh hhh .. emmhh ohhh, Ujanggg…nanti saja yaaa, sudah dulu…ahhhh, sudahhh…, sudahhhhhh”, tangannya yang mungil terayun ke belakang berusaha menahan gerakan pinggulku, kemudian ia menarik pinggulnya hingga penisku terlepas dari belahan vaginanya..
Non Ayhwa kewalahan ketika aku bertambah beringas, dengan mesra ia merayuku berusaha meredakan nafsu birahiku yang masih bergejolak dengan liar. Ia duduk kelelahan diatas kursinya, tangannya menarik beberapa lembar tissu kemudian menyeka keringat di dahi, leher dan rahangnya, nafasnya masih memburu keras.
“Tapi Nonnn, saya belum…”Aku mendesah kecewa.
“Iya-iya,  sini…aku bantuin….”
Si pengantin baru berlutut di hadapan penisku dan melakukan aksi deepthroat yang membuatku mengerang keenakan. Lumayan lama juga ia melakukan servicenya hingga kepala penisku berkedut-kedut nikmat, dengan cepat Nona Ayhwa meludahkan penisku dari mulutnya, penisku mengacung kesuatu titik…., sementara Non Ayhwa membantu menjilati kepala penisku dari arah samping, diciuminya batang penisku , lidahnya menjilat menggelitiki leher penisku dari arah samping, jemarinya mengelusi buah zakarku.

“Houfhh..hummphh eummmh Ujangghhmmmh..Ummmhhhh……”
Pipi Non Ayhwa mengempot ketika ia menghisapi penisku sesekali lidahnya memutari kepala penisku dengan teratur tiba-tiba saja ia memuntahkan penisku , telapak tangannya yang halus mengocok-ngocok batang penisku dengan kuat hingga aku mendesis menahan rasa nikmat, Jedutt.. Jedutttt…!! Telapak tangannya menyatu menjepit kepala penisku kemudian bergerak cepat seperti gerakan orang yang tengah berusaha membuat api dengan bantuan sebatang kayu dan daun-daun kering, hanya bedanya ia menggunakan kemaluanku sebagai batang kayu.
“Ampunn Nonn, Amphuuunnn OwaHHHH…..!! Sruuuttt… Crooottt.. Croot-cothh…Choootthhhh” spermaku muncrat mengguyur sepiring nasi goreng di atas meja dan sebagian kecil memercik di atas meja.
“Ih, ujang, gimana sihh ??aduh nasi gorengku..!!”
“Tenang Nonn… he he he, Non belum pernah nyobain nasi goreng super spesial kan??” dengan sebuah sendok kuaduk-aduk hingga spermaku tercampur merata.
“Yeee…, emang aku apaan, masa dikasih makan yang gituan,.. sono beliin..lagi gih!!”
Non Away merapikan pakaiannya kemudian memberikan uang 10.000-an kepadaku yang tengah memakai celana dalam, tiba-tiba kami berdua panik setengah mati ketika mendengar suara langkah-langkah kaki mendekati ruang kerja Non Ayhwa, dengan cepat aku bersembunyi di kolong meja kerjanya sementara ia menyambar celanaku yang belum sempat kupakai dan melemparkannya ke arahku kemudian ia duduk di kursinya  untuk melindungiku.
“Brakkk….!!Ayhwaaa…!! Laporan rugi labanya sudah selesai ??Lho?? kamu koq keringatan begitu sih???”

“Ehh, emmhh Anu Buu, saya kurang enak badan….ini Bu laporannya, Ss-sudah bu , sudah…selesai, ini.” Non Ayhwa berusaha mengalihkan topik pembicaraan dengan menyodorkan laporan rugi-laba.
“Bagus…!! Eh beli nasi goreng dimana nih ??“
“Nggak tahu Bu dibeliin Ujang”
“Saya juga belum sarapan pagi..kelihatannya asik punya nih”
“Emm, ibu mau ?? kebetulan saya sudah sarapan roti tadi….”
“Bener kamu sudah sarapan ??”
“Bener Bu, bener….., bener….”
“Makasih ya , Hwaaaa, ibu bawa nih nasi gorengnya..“
“Silahkan bu, silahkan….”
Aku mendengar suara pintu ditutup dan langkah-langkah kaki menjauhi ruangan kerja Non Ayhwa, wajahku tersembul dari kolong meja menatap wajah Non Ayhwa masih shock, ia tidak menyadari jari telunjukku yang sudah tiba dibelahan vaginanya, setelah kurasakan pas kutusukkan jari telunjukku kuat-kuat, Clebbbb…..!!
“Ow-ow-ow…, Hssshhh UJANGG…!!” si pengantin baru menepiskan tanganku, sepasang kakinya yang mulus melejang-lejang.
“Tenang non, tenaaanggg, saya hanya menolong….”
“Nolong apanya, KAGET TAU!! udah ah, aku mau kerja dulu”
“Silahkan Nonn, Non Ayhwa kerja aja, saya juga mau kerja nih” kepalaku menyelinap di antara pahanya. Bibirku menyusuri permukaan pahanya sebelah dalam, terdengar suara lagu Mp3 dari komputer Non Ayhwa, di tengah alunan lagu ia berusaha menyamarkan rintihan lirihnya ketika ujung lidahku mulai menusuki klitorisnya. Kubasuh isi vaginanya dengan batang lidahku, kumanjakan si cantik yang semakin mengangkangkan kakinya yang mulus dengan pasrah. Kunaikkan kembali rok mininya ke atas, lendir-lendir nafsu kembali membanjiri belahan liang vagina Non Ayhwa.

Aku melumat selangkangan Nona Ayhwa kujilat dan kuhisap habis lendir-lendir nafsunya yang gurih dan harum, kuemuti bibir vagina Nona Ayhwa hingga ia kelabakan menahan nafsu birahinya yang semakin membara, kutepuk-tepuk vaginanya yang empuk kemudian kutarik dan kubuka bibir vaginanya, kubenamkan wajahku sambil menghirup aroma vagina Non Ayhwa yang harum.
“Shhh Hsssshh…ah-ah-aaaaah” desahan Non Ayhwa terdengar merdu ketika batang lidahku terayun membelai dan menggelitiki kelentitnya, sesekali kutusuk-tusuk kelentit Non Ayhwa dengan ujung lidahku hingga ia terperanjat dalam gairah nafsu yang berkobar liar, wajahku terangkat memperhatikan ekspresi wajah cantik Non Ayhwa yang tengah horny sementara dua jariku bergerak menusuki belahan vaginanya sementara aku menariki putting susunya yang meruncing dengan mulutku.
“Gimana Non?? “ aku bertanya padanya.
“Ujaannghhh, kamu belajar dari mana sich….,ihh enak bangetttt…. Jangg.. ow-ahhhhh-ahh”
“uhhh…! Creettt… crrrttttt…..u-u-janggg”
“Sllleeepphhh…. Srrrrrpphhhh…….”
Mulutku segera menunkik ke bawah mencucup vaginanya, kuseruput cairan gurih penambah stamina alami yang meleleh dari belahan vagina Non Ayhwa, saat sedang asik-asiknya menjilat dan menyeruput cairan gurih di selangkangan si pengantin baru tiba-tiba telepon di meja Non Ayhwa berbunyi.
“Ujang.. nanti dulu.., stophh ,ahh  nakall…hsshh, uhh..hhhsshhhh”
Tanpa mempedulikan bunyi telepon di atas meja aku melanjutkan kesibukanku membersihkan dan menghisap-hisap cairan gurih di selangkangannya sementara tangannya terus menggapai-gapai berusaha meraih gagang telepon dimejanya

“H-Halllooo….,ii,iya bu.., iyaaa.. baikk…”setelah menaruh gagang telepon Non Ayhwa mendorong kepalaku, dengan bernafsu aku hendak kembali menerkam selangkangannya dan…
“Bletakkkk…..!! HEUDEUHH, Non, masih pengennnn nihhh…, gurih amat memeknyaa….” si cantik menjitak jidatku yang hendak meluncur di antara sepasang pahanya yang mulus mengangkang. Aku memohon memelas sambil mengelus-ngelus sepasang pahanya yang halus.
“Udahhh, nanti aja yachh, kamu dipanggil Bu Selmy tuch…”
“HAhh ?? mau ngapain Non ??”
“Jangan-jangan minta diservice sama kamu jang…he he he”
“Hush sembarangan!! jangan lupa nanti kita lembur lagi yach Nonnnn, muachh.. cuphhh.” aku mengingatkannya agar berlembur ria sepulang jam kantor.
Sambil memakai celanaku aku menundukkan wajahku dan mencium mesra bibir si pengantin baru, kukecup keningnya beberapa kali sebagai tanda terimakasih kemudian dengan sopan aku mengundurkan diri dari ruangan akunting. Setelah menghela nafas panjang-panjang dengan malas kulangkahkan kedua kakiku yang terasa berat menuju ke ruangan Bu Selmy, kuhela kembali nafasku dalam-dalam sebelum kuputuskan untuk mengetuk pintu itu.
“Tokkk.. Tokkk Tokkkk…!!.”
“Masukkk…!!”
“Permisi Buuu, ibu memanggil saya…??”
“Jang, besok kamu beliin nasi goreng yang kaya tadi  ya…”

“Yang gini, gitu, gimana ya bu ??”
“ini lohh, yang kamu beliin buat Ayhwa itu”
DEGGGGG…..!!! BLEDAKKKK……!! Wajahku langsung pucat pasi sambil menatap piring kosong diatas meja, sekujur tubuhku merinding hebat rupanya nasi goreng sperma spesial ala Ujang membuat bu Selmy ketagihan.
“Anuu, itu buu, belinya agak susah…, agak lama”
“Oooo, nggak masalahhhhhh, pokoknya kamu aturin ajaaaaa yaaa! Yang jelas saya mau sarapan nasi goreng seperti ini SETIAP PAGI….!!kalau nggak , AWAS KAMU!!“
“baik bu.., baikk….”
Gendang telingaku serasa pecah mendengar ultimatum yang dikeluarkan oleh Bu Selmy, di bawah todongan berisi ancaman aku terpaksa menyetujui syarat yang berat ini daripada Bu Selmy meyedot langsung spermaku dari sumbernya, BRRRHHHH…., merinding sekujur tubuhku membayangkan mulut keriput itu menyedoti batang penisku, dengan tertunduk lesu aku mohon diri keluar dari ruangan yang mengerikan itu untuk mengerjakan tugasku sebagai Obe perusahaan sekaligus mengintai mangsa baru, Sipirang.

*****************************
Siang hari jam 12.30….

Beberapa saat setelah menyediakan sesajen untuk si penyihir berambut putih, aku melangkahkan kakiku dan duduk di sebuah bangku panjang untuk beristirahat. Beberapa orang karyawan dan karyawati lewat di hadapan wajahku, Ting..!! mataku membeliak ketika seorang gadis berwajah cantik nan rupawan berjalan ke arahku.
“G u t moning… “ aku berusaha untuk menyapanya dengan modal bahasa Inggrisku yang di bawah standar, aku menggantungkan setitik harapan untuk dapat mengenalnya lebih jauh..
“Selamat pagi!” si pirang balas menyapaku.
HAH ??!! U mai gut, si pirang yang cantik menyapaku dalam bahasa Indonesia?? Wah-wah bidadariku tersenyum ramah, cantik, humm, payudaranya montok amat khas cewe bule yang kebanyakan montok-montok di bagian dada, sebuah senyum menyerigai di bibirku ketika mata superku menatap buah pantatnya yang padat, duhhh pinggulnya oh pinggul..!!, goyang kiri, goyang kanan, Olala…, Brrrrrr…… Uhhhhh… kuhilangkan senyuman di wajahku yang penuh dengan cahaya kemaksiatan ketika tubuh si pirang berbalik ke arahku.
“Ada apa Nonn ?? apakah ada yang dapat saya bantu ??eh iya, nama saya UJANG……“ Aku bertanya dengan penuh perhatian dan kasih sayang khas seorang Obe sambil memperkenalkan diri.
“Eummm, -Anu Pak Ujang- Tahu nggak, di mana rumah makan yang murah meriah…tapi enak??“ si pirang bertanya kepadaku, bleehhh, ngak salah denger nich ?? Anunya saya ??

——–
“-Anu pak Ujang- ?he he he,hush si Non gimana sich ? Saya jadi malu ditanya begitu, Anu-nya saya sih ngak tahu Nonnn, yang tau saya-nya ini loh Non, bukan anu saya, Hua ha ha ha ha ha, ngaha, uhukkkk… ehemmmm ,sepertinya makan murah plus menu dari Ujang Junior, Saya jamin pasti murah meriah terus ada enak-enaknya kalau saya menyusu disusu-nya Non yang gede” dengan bersemangat otak-ku yang ngeres menjawab pertanyaan si pirang
——-

“Ooooo…, Mau makan siang ya Non? Sini saya belikan, Non mau pesan apa??“ sebuah kepalsuan dari bibirku yang tebal menyembunyikan kengeresan di otakku.
“Emmmhhh.. ? makan apa ya ?? masih bingung nihhh… “
“Gimana kalau makan rendang Padang aja”

——
“Ehmmm, jangan jauh-jauh Non, lebih baik beli nasi Padang aja di sebelah,n’tar sisa waktunya kita manfaatkan untuk ehem-ehem…, Ceka kak ka ka ka.” otak kotorku kembali bekerja,
——–

“WAhh boleh tuch,”
“Nah, Non tunggu di ruang makan atas aja ya…. “
“Lohhh ?? ngapain di atas…?? Kan ruangan makannya di situ ?“ telunjuk Non Michelle menunjukk kesuatu titik di seberang sana.
“Owwww… itu ruangan makan untuk karyawan lama, nah untuk karyawan baru ruang makannya di atas sana Non….” aku menunjukkan jari telunjukku ke atas, ke sebuah jendela yang terbuka.
“Ahh, masa sich? Aduh! kamu yakin di lantai atas sana??“ si pirang menengadahkan wajahnya ke atas,
“Emang begitu Nonnn, Eh, nama lengkapnya Non siapa ya??“ dengan cerdik kualihkan bahan pembicaraan agar ia tidak bertanya lebih lanjut mengenai letak ruangan makan yang sengaja kuatur untuknya.
“Michelle Spring” jantungku berdetak keras ketika si pirang melemparkan sebuah senyuman manis-nya untuk-ku sebelum ia membalikkan tubuhnya yang seksi. Mataku berkedip-kedip mirip lampu setopan. Whait por me may lap…khayalan liarku berkobar bak si jago merah yang sedang mengamuk. Akupun membalikkan tubuhku JEDAKKK….!! pecah nafsuku, digantikan oleh rasa dongkol dan sakit di jidatku..
“Tembok sialan!! Udah tau orang mau lewat, masih juga diem disitu!!! Brengsek!!” aku menggerutu panjang lebar sambil mengurut-ngurut jidatku dengan berlari kecil aku menuju kerumah makan Padang di seberang jalan, dengan bernafsu kubayar pesanan si pirang hingga kasir dirumah makan itu bergidik ketakutan melihat ekspresi wajahku yang tengah horny.
Yuhuuuuu…., Honey, Im homee…, dengan mengendap-ngendap aku mendekati seseorang yang tengah melamun di jendela. Kuperhatikan lekuk liku tubuhnya yang menggoda, rambutnya yang pirang indah, mataku melirik kebawah memperhatikan sepasang kakinya yang tersembul dari balik rok mini berwarna biru tua, serrrr….serrrrr…., darah mudaku berdesir mengobarkan api birahiku yang terpendam.

“Noonnn…., ini makan siangnyaaaa….”
“Ehhh Pak Ujang….makasihhhh.” si pirang membalikkan tubuhnya kemudian meraih kantung plastik berwarna merah di tanganku. Gabrukkk….!! kuterkam dan kupeluk tubuhnya.
“Heiiii….!! what the helll!!!” Michelle Spring mengumpat ketika aku menggerayangi tubuhnya.
“Jangan berisik Nonn, atau saya akann… NGAHAKKK…!!!”
Aku tidak sempat melanjutkan ancamanku ketika serangan lutut si pirang mendarat telak di selangkanganku kemudian entah bagaimana caranya ia membanting tubuhku hingga mendarat di atas lantai, BLUGGGGGG!!.
“SIALANNNN….!!, grrrhhh, Hupppp…!!” dengan segera aku bangkit sambil memasang kuda-kudaku, inilah saatnya pencak silat beradu dengan karate, aku melompat menerkam tubuh indah di hadapanku.
“Hungghhh….” tumit si pirang mampir diulu hatiku,
PLAKKKK….!!BUKKKKK…BUKKKK!! Jedakkk!!” selanjutnya terdengar suara-suara keras yang membuatku limbung tersungkur jatuh ke depan, pinggulku terangkat ke atas, nungging dengan gaya doggy style
“AMPUN .. AMPUNN HOAHHH….!!”
“I hate someone like you, MANIACCC!”
“Bukan Nonnn saya Ujanggg, bukan MANIACC…hadowww…!!” HOAWWWWW….!!”dengan teknik memiting yang canggih ia mengunci kedua tanganku hingga aku melolong kesakitan.
“AMPOONNN…AMPOOOONN>>!! WADOWWWWW….!!”
“Awas kalau kamu berani kurang ajar lagi….!!”
“Ngak Nonn…, Ampun, Ampunn HUaDduhhhhh-HuNgH!!”
“FUCK YOUUU….!!” sambil memaki Non Michelle menyambar sebungkus nasi padang yang sempat kaget menyaksikan kekalahanku,

Aku merangkak kemudian duduk bersandar lemah pada kaki meja, kukeluarkan dan kunyalakan HPku, kuhubungi sebuah nomer emergency call, help me Buddy!!
“Soo, Darsooo, tulungin gua… Hadohh…, mampus gua Soo…”
“Hahhh ?? Lu di mana Jangg…..??”
Tiga SMS tambahan kukirimkan pada Non Ayhwa, Non Vania dan Non Shasha. Tidak berapa lama bersembulan wajah-wajah yang kukenal, pertama wajah Non Vania kemudian Non Ayhwa lalu Non Sasha dan yang terakhir wajah Darso, dasar geblek..!!, dihubungi paling awal, dateng paling akhir!! sambil meringis menahan rasa sakit aku menceritakan kejadian tragis beberapa saat yang lalu demi mencari secuil kenikmatan..
“HA HA HA HA HA HA….” Darso mentertawakanku ketika aku menceritakan kejadian tragis yang kualami, sementara tiga gadis cantik bermata sipit tertawa merdu sambil membantuku berdiri.
“Makanya Janggg, kamu jangan sembarangann…donggg”
“Iya nich, udah dibilangin nggak nurut….,”
“Sakit ya, kamu ngak apa-apa Jangg…” dengan tertatih aku dipapah oleh Non Ayhwa, Non Vania dan Non Shasha sementara Darso melenggang kangkung di depan memimpin rombongan.

Office Cutie 4 : Berbagi Lubang Pengantin




Ayhwa
“HOAAAAAMMM!!“ aku membuka mulutku lebar-lebar,
Sretttt…kuturunkan resleting celanaku dan kutarik Ujang Junior keluar dari dalam celana dalamku yang dekil,  Serrrrrrrr…serrrrrrr serrrrrrrr…kusirami sebuah pot keramik di dinding toilet yang sedang menganggur, sebuah senyum mengembang di bibirku yang tebal, membayangkan wajah seorang gadis cantik berwajah pirang berwajah sensual sensual bertubuh seksi, si pirang baru saja lulus dan langsung diterima kerja di perusahaanku (ehh salahh…, maksudku, perusahaan Bu SELMY) Ia sudah bekerja selama seminggu dan sampai saat ini aku masih  belum juga berhasil menemukan kesempatan dalam kesempitan (vaginanya) EHEMMMM…..!! aku berdehem keras ketika kata sempit secara otomatis mengarahkan otak kotorku pada belahan di selangkangan si pirang. Aku mendesak-desakkan tubuhku bagian bawah mendesak pot porcelain itu, batang penisku mendadak tegang.
“Ujang sayangg…. “
“EeHHHHH“ aku menghentikan gerakan konyolku ketika sebuah suara memanggil namaku dari belakang, dengan reflek aku menengok ke belakang
“PRRROOOOTTTT….Fuahhh…!! “
“AUHHHH…!! Beuuuuhhh… Monyong lu!!” telapak tanganku mengusap-ngusap wajahku yang terkena semburan air dari mulut Darso, seorang sahabat karibku yang berperawakan tinggi besar, gemuk berlemak.
“Paya otak-lu dinginnnnn…, lagi ngapain lu… Jang…!“ .
“He he he he……” aku terkekeh tanpa menjawab pertanyaam-nya, aku tahu Darso hanya menyindirku, Darso berdiri di sampingku kemudian ikut menyirami sebuah pot di sisi potku, wajahnya tertunduk sambil menghela nafas panjang.
“Hhhhhhhhhhhh…. Jangg lu tau nggak, Non Ayhwa udah balik loh dari bulan madunya….. “
“WADUHHHH… GAWAT…!!!“
“Ehhh napa emang ?? Apanya yang GAWAT ??“
“Udah dijebol donggggg… “

“SOMPRETTT…..!! jangan bikin gua panas dong JANG!!“
“Panas di hati atau panas di bawah… he he he”
“Ya dua – duanya lah JANG……Hhhhhhhhhhhh” aku tidak  melanjutkan guyonanku menyaksikan wajah Darso yang hampir menangis, sahabat karibku menghela nafas panjang untuk melepaskan beban berat di hatinya, aku tahu sudah lama Darso naksir berat sama Non Ayhwa, tubuh si pengantin baru ramping sexy mungil, kemolekan tubuhnya ditunjang oleh wajah orientalnya yang jelita, sungguh beruntung pria yang kini menjadi suaminya. Setelah memasukkan “barang” kami masing-masing, aku dan Darso mencuci tangan di wastafel sambil mengobrol ke sana kemari, tiba-tiba muncul sebuah ide gila di otakku.
“Psssttt… lu mau nggak begini sama Non Ayhwa?” aku berbisik sambil menyelipkan jempolku di antara jari telunjuk dan jari tengahku, sebuah senyuman mesum mengembang diwajahku..
“MONYONG LU JANGG,.!! “ Darso cemberut, bibirnya meruncing.
“hushhhh…, gua serius nihh….., yeee ditanya malah bengong…ya sudah-lah” Aku hendak berlalu keluar dari dalam toilet namun tubuh Darso yang berlemak menghadang langkah-ku.
“Gimana caranya Jang??“ Darso bertanya kepadaku, ia tampak antusias sekali dengan ide gilaku.
“Begini…he he he he“ kujejali Darso dengan segudang ilmu-ku yang sudah kubuktikan dan kupraktekkan pada Non Shasha dan Non Vania., aku terus berbisik-bisik di telinganya dan ia mengangguk-anggukkan kepalanya, sebuah senyum mesum mengembang di wajahku dan sahabat karibku, sebuah koalisi tercipta diantara kami berdua, koalisi untuk berburu karyawati-karyawati cantik bermata sipit diperusahaan XXXX tempat kami berdua mencari nafkah, sebuah perangkap sudah disiapkan untuk menjebak dan memperdaya Non Ayhwa si pengantin baru yang cantik jelita.

********************************
Hari Senin siang

Setelah menerima misscall dari Darso di hp-ku, dengan langkah terburu-buru aku segera menuju ke toilet lantai tiga, letak toilet itu berada di pojok kiri bersebelahan dengan toilet wanita, Darso sedang menatap ke arah toilet pria, nafasnya turun naik dengan cepat, kutepuk pundaknya dari belakang….
“Gimana ?? berhasil ???“
“Ituu.. ituuu masukkk JANGGG….!!Tapi…“ Darso tergagap menjawab pertanyaanku, tanpa menunggu lebih lama aku melompat masuk mengejar mangsa-ku, sebuah senyum mengembang di bibirku ketika telingaku mendengar suara, serrrrrr…. serrrrrr…serrrrrr….dari balik sebuah pintu yang masih menyembunyikan seorang mangsaku yang cantik, aku merasa yakin Non Ayhwa tidak dapat bersembunyi dari keganasan-ku karena di dalam toilet pria itu hanya ada sebuah wc tertutup dan lima buah pot keramik yang tergantung di dinding dan tiga buah wastafel yang berjejer tertanam pada sebuah meja batu panjang berlapiskan keramik berwarna putih di bawah sebuah cermin berukuran besar yang terpasang di dinding.
“(???????????????………..)”aku terkejut ketika seseorang membekap mulutku dan menyeret tubuhku dari  belakang, keluar dari dalam toilet pria dan terus menyeretku ke tempat yang tersembunyi, aku menolehkan kepalaku kesamping belakang ketika orang itu melepaskanku, aku keheranan menatap raut wajah Darso yang ketakutan, dasar kampungan, mau dikasih yang enak-enak malah ketakutan seperti itu.
“Lhaa…gimana sihhh lu!! Belon apa – apa udah keok duluan, dasar pengecut, BADAN AMA ISI SELANGKANGAN AJA YANG GEDE” aku mengumpat kesal sambil menyikut perutnya yang buncit.
“Ssssttttt… janggg Ituuuu…..” Darso meletakkan jari telunjuknya pada bibirnya yang meruncing kemudian menunjuk kedepan, JANTUNGKU berhenti berdetak KARENA TERKEJUT, ALAMAAAAKKKK!!!
“HAHHHHHH……@#$%@@#$ ?? Goblokkk….!! Kenapa nggak ngomong dari tadi, AMPIR AJA GUA MAMPUSSSS!!!“ aku mendesis keras mengumpat sambil mendelikkan mataku.
“Lohhh ?? Koqq nyalahin gua sihh, kan elu sendiri yang nyelonong masuk seenaknya..!!, makanya dengerin dulu…kata-kata gua sampe abis, gua-kan belum selesai bicara..JANGGG…”

———————
Hari Selasa, jam 17.05….

“Jangggg… lu yakin nggak?? Ntar kaya kemaren!! Ampir aja lu ngembatttt…. Bu Selmy!! “
“Gua yakinn…, duh bawel amat sih lu, udahhhh cepetan-ah , ntar nggak keburu dodol!!” aku mulai naik pitam ketika Darso meragukan keampuhan tipu muslihatku.
Darso segera menyambar selembar kertas pengumuman yang kubuat dengan bantuan Non Vania, si gemuk menempelkan kertas pengumuman itu tepat di pintu toilet wanita, ”Maaf sedang dalam perbaikan”, isi kertas pengumuman yang tertempel di depan pintu toilet wanita itu, kami bedua segera bersembunyi ditempat persembunyian kami, aku dan sahabat karib-ku menanti seseorang yang diharapkan akan datang. Tidak berapa lama aku dan Darso tersenyum sambil saling berpandangan ketika seorang karyawati cantik melangkah terburu-buru menuju toilet wanita yang letaknya bersebelahan dengan toilet pria., tubuhnya elok molek, ramping seksi , wajahnya cantik jelita, kedua matanya sipit, bibirnya yang mungil tampak segar menggoda.
“Aduuhhhhh, uuhhhh….Hssshhhhh.. nggak tahan… emmmhhh” si pengantin baru tampak kebingungan, kedua kakinya yang mulus merapat seolah-olah sedang menahan sesuatu, berkali-kali bibirnya yang mungil mendesis pelan, setelah menengokkan kepalanya kesana-kemari, tubuh moleknya mulai mendekati pintu toilet pria yang sengaja kubuka dengan lebar. Ia tampaknya masih ragu-ragu untuk masuk ke dalam perangkap kenikmatan yang sudah kami persiapkan di dalam toilet pria, dengan cepat tubuh molek itu menyelinap masuk ke dalam perangkapku, aku dan Darso menahan tawa ketika keragu-raguannya dihantam oleh “kebutuhan yang mendesak”.

Darso melangkah mendahului-ku, kami berdua masuk mengikuti si pengantin baru yang cantik jelita dengan mengendap-ngendap tanpa mengeluarkan suara kami menanti di depan pintu kenikmatan yang masih tertutup rapat, Seeerrrrr……!! Serrrrrrrrr….!! aliran nafsu bejat membuat sesuatu di permukaan celana kami menggembung, dengan sabar aku dan Darso menunggu makan siang kami yang pasti lezat, krekettttt…. pintu itu terbuka lebar, sesosok tubuh molek berwajah oriental menampakkan dirinya.
“HAHHHHH….. ?? Nonn Ayhwaaa ?? “
“WADUHHHHHHH…. ?? “
“AWWWWWW………!!! “ia berteriak kecil.
Aku dan Darso berpura-pura terkejut, sementara ia tersentak karena terkejut setengah mati, ia tidak menduga kalau aku dan Darso akan memergokinya.
“Lagi ngapain di sini NON ?? HAYOH…., NGGAKU…..!!“ Darso mulai menginterogasi si pengantin baru bermata sipit.
“ehh Euuu.., ini…, aku salah masuk…..” si cantik berusaha mencari-cari alasan.
“NGGAK MUNGKIN NONNNN…., NGGAK LIAT ITU APAAN??” Dengan mudah Darso mematahkan alasan si pengantin baru dengan menunjuk ke arah lima buah pot keramik yang menggantung berjajar di dinding.
“Pasti Non Ayhwa pengen ngintipin titit, hayo NGGAKU!!!” aku menuduhnya sambil menjulurkan tanganku ke arah dada si cantik yang tengah tergagap, oleh tuduhan-tuduhanku dan si gemuk Darso.
“NGGAKKK…!! BUKANNN…!!, Akuuu, ituu… Heiiii, jangan kurang ajar kamu UJANGGG…!!” Ayhwa menepiskan tanganku yang hendak menjamah susunya.

“SITU YANG JANGAN KURANG AJARRR…! MASUK ke dalam toilet pria buat ngintipin titit saya dan UJANG!“ Darso mendorong bahu Non Ayhwa dan mendesak tubuh karyawati cantik itu ke dinding dekat dudukan wastafel, tas si pengantin baru terjatuh di bawah kedua kakinya yang gemetar ketakutan.
“Lepaskannn,, heii, Darsoo…Lepaskannnn!! atau aku teriak nihh!!“ Non Ayhwa mendorong tubuh Darso yang berusaha untuk memeluk tubuhnya yang molek mungil, ia berusaha menggertakku dan Darso.
“Coba aja, kita lihat siapa nanti yang bakal-an menanggung malu…!!”
“TOLONGGG ADA TUKANG INTIPPPPP!!” aku berpura – pura mulai berteriak.
“Kurang keras Jangg teriak lagii… yang kerassss!!“
“Toolllooonnggg!!“ aku sedikit mengeraskan suaraku.
“Jangann Ujanggg…jangannnnnn!” si pengantin cantik bermata sipit memohon dengan suara memelas.
“Makanya nggak usah ngancam mau berteriak-teriak begituuuuuu…., n’tar kalau ada yang datang gimana?? “ sikap Darso berubah menjadi lebih lembut, aku tersenyum sambil menempelkan kertas pengumuman yang kedua pada pintu toilet pria “maaf sedang dalam perbaikan“, Clickkkkkkk…kututupkan pintu itu dan ku kunci dari dalam.
“Ujanggg…, Darsooooo…tolong lepaskan akuuuu, tolong…” Ayhwa memohon sambil terisak ketika Darso memeluk tubuh mungilnya dan mendudukkannya di atas dudukan meja wastafel, kedua kaki mulusnya yang terjuntai merapat ketakutan.

“Non Ayhwa, saya tidak akan menyakiti-mu percaya-lah sayang.” Darso membelai wajah Non Ayhwa kemudian dengan lembut mengusap airmata yang meleleh di pipinya
Tangan Darso meloloskan blazer berwarna putih yang membalut tubuh mungilnya dan memberikannya kepadaku, dengan rapi aku melipat jaz blazer Non Ayhwa, baru saja aku selesai melipat baju blazer itu, Darso kembali menyodorkan baju kemeja berwarna krem yang baru dirampasnya dari tubuh mulus si pengantin baru.
“Sialannnnn…!! Lu pikir gua lemari baju hah??? bajunya doang yang lu bagi ke-gue“ aku mendesis kesal, mataku melotot menatap gundukan putih yang mengintip dari balik bra Non Ayhwa.
“He he he…, sekaliannnnn…., lipet yang rapi ya Jang…n’tar lu pasti gua bagi, tapi gua lagi melepas rindu dulu nihhh sama Non Ayhwa…, jangan ganggu yaaaaa…… he he he he… cupphhhh…..” Darso mengecup pipi Non Ayhwa
Si cantik melengoskan wajah-nya, ia berusaha menghindari sebuah ciuman di bibir mungilnya. Darso tersenyum mesum tangannya mengusap-ngusap lutut Non Ayhwa, usapannya terus merayap naik sambil menarik rok mininya sedikit demi sedikit ke atas.
“Jangannn…! jangannn DARSO…jangannnn, toloongggg kasihanilah suami-ku, kasihani-lah dia!” Non Ayhwa menepiskan tangan Darso yang mengelus pahanya sebelah dalam, ia berusaha mempertahankan kesuciannya, ia tidak rela tangan Darso menjamah tubuhnya dan tidak sudi ada tangan lain yang membelai tubuhnya selain tangan suaminya tercinta.
“Nonnn Ayhwaaaaa…., saya ini lebih kasihan daripada suami Non Ayhwa, siang-malam saya selalu mengimpi-impikan Non, saya tersiksa sekali Nonnnnn, seminggu yang lalu cinta saya hancur di tengah jalan ketika mendengar Non Ayhwa menikahi lelaki itu, panas rasanya hati saya ini membayangkan tubuh molek Non dijamah oleh laki-laki lainnnnnn……” Darso menumpahkan seluruh isi hatinya, hatiku ikut terenyuh mendengar kata-kata Darso yang berlantunkan nada-nada sedih.

Mata Darso menatap wajah Non Ayhwa yang tertunduk sambil terisak, tangan kanannya terjulur untuk mencubit lembut dagu si pengantin baru kemudian mengangkat dagunya agar wajahnya yang cantik mendonggak ke atas, dengan rakus bibir Darso mengecupi bibir Non Ayhwa yang berwarna merah muda, air mata semakin deras meleleh dari sudut mata si pengantin baru yang jelita. Ketika Darso melumat dan mengulum bibirnya yang mungil, sesekali bibir tebalnya mengecupi kedua mata Nona Ayhwa, lidahnya menjilati hidung si pengantin baru yang mancung, setelah itu batang lidahnya bergerak mengulas-ngulas lelehan air mata Non Ayhwa yang meleleh di pipinya yang lembut halus.
“AHHHHHH!!“ tubuh molek Non Ayhwa terperanjat ketika tangan Darso merogoh payudaranya sebelah kanan, tangan itu meremas-remas sesuatu di dalam bra Non Ayhwa sementara bibirnya terus mengecupi bibir si pengantin baru yang sesekali mendesah pelan menggantikan suara isak tangisnya yang mulai menghilang
Si cantik bertubuh molek terdiam ketika tangan si gemuk berlemak merayapi belakang punggungnya untuk melepaskan kaitan branya, ia tertunduk dengan wajah merona merah dadu ketika Darso menarik bra putihnya hingga terlolos melalui kedua lengannya. Mata Darso dan mataku mendelik melotot menatap dua buah bukit kembar yang putih  ranum, jemarinya tertekuk mirip seperti cakar kemudian mencengkram kedua gunung indah di dada gadis itu, kedua jari jempolnya bergerak lembut memijiti pentil Non Ayhwa yang tegak meruncing karena terangsang. Tangan si pengantin baru berpegangan pada kedua lengan Darso yang sedang asik mencengkram kedua bukit susu di dadanya, si cantik merintih dan mendesah kecil, wajahnya yang cantik yang semula hanya menatap lantai kini mulai terangkat menatap wajah Darso, bibirnya yang mungil merekah dan mendesis sambil sesekali  memanggil nama si gemuk itu.
“aaaaahhhh… Hsssshhh….Sssshhssssss.. Darsooooooo… Hssssssss… ahhhh”

“Cupphh.. Emmmmhhh Cpppp….mmmmmh” Ayhwa memejamkan matanya ketika Darso kembali menundukkan wajah untuk melumat bibirnya yang mungil
Dengan rakus si gemuk mengulum bibir Non Ayhwa, cumbuan mereka semakin memanas ketika si cantik bertubuh molek mulai berani membalas lumatan-lumatan bibir Darso, sambil meremasi payudara Non Ayhwa Darso mengecup, melumat dan mengulum bibir mungil itu sampai puas. Si gemuk mengecup dahi Non Ayhwa kemudian menjulurkan batang lidahnya menjilati sela-sela bibir mungilnya. Non Ayhwa menjulurkan batang lidahnya menerima ajakan lidah mesum Darso yang terus menggeliat diantara sela-sela bibirnya yang mungil, dua batang lidah yang tampak basah itu bergerak saling menyapu dan mengelus, berkali-kali Darso menghisapi dan mengulum batang lidah si pengantin baru yang jelita. Darso memposisikan tubuh gadis itu untuk berlutut menghadap ke arah cermin besar yang terpasang di dinding, kini melalui bayangan di cermin besar itu Nona Ayhwa dapat menyaksikan dengan mata kepalanya sediri apa yang sedang diperbuat oleh Darso,  seorang office boy bertubuh gemuk berperut buncit yang tengah menggerayangi kemolekan tubuhnya.
“Ehhssshhhhhhhhh… ahhhhhhhhhh…… “ tubuh mungil itu menggigil ketika Darso melumati dan mencumbui batang lehernya yang putih jenjang, matanya menatap sayu pada bayangan tubuhnya di cermin, ia mendesah ketika Darso mengusap bulatan payudaranya bagian bawah kemudian meremas-remas susunya yang semakin membongkah padat. Sementara bibir Darso mengecupi dan membasuh kedua pundaknya bergantian sebelah kiri dan kanan.

“Ihhh…Geli……Hssshhhhhhh” tangan kiri Nona Ayhwa bergerak ke belakang mendorong kepala Darso yang sedang menggeluti batang lehernya bagian kiri, dengan lembut tangan Darso mencekal pergelangan tangan Non Ayhwa dan menariknya ke belakang kemudian kembali melanjutkan aksinya menggecupi dan mencumbui bahu, pundak, leher, dan telinga si pengantin baru yang terus mendesah dan merintih pelan. Tubuh moleknya meliuk ke sana kemari berusaha menghindari serangan-serangan Darso yang geli-geli nikmat, sesekali wajahnya yang jelita mendongkak ke atas sambil mendesis dan mendesah menahan cumbuan panas dari seorang office boy bertubuh gemuk berlemak.
“Saya buka ya Nonnnn…paya lebih afdool” tangan Darso mencapit resleting rok mini Non Ayhwa kemudian menarik resleting itu turun dengan sekali sentakan yang kuat, setelah meloloskan rok mininya, tangan Darso bergerak untuk meloloskan secarik celana dalam putih yang melindungi wilayah suci Ayhwa.
“haaaaaaaaaaaa…??!!“ Ayhwa menarik nafas ketika tangan kanan si gemuk meraih menangkup selangkangannya dari belakang, tangan kiri Darso semakin aktif menggerayangi dan meremas-remas payudara-nya, mulut Darso bergerak mengecupi dan menjilati punggungnya, entah kenapa ia merasakan suatu sensasi yang merangsang gejolak birahinya ketika melalui pantulan cermin besar itu. Ayhwa menyaksikan tubuh mungilnya tengah digeluti oleh seorang pria gemuk.
“Slllssshhhhh ….ohhhhh!” bibir si cantik mendesah pelan ketika merasakan jari tengah Darso bergerak menekan dan tercelup diantara cepitan bibir vaginanya yang sudah becek sedari tadi.

“Nonn, memek Non sempit amat ya ? He he he, saya jadi kepingin tahu, sebenarnya sudah berapa kali sih Non Ayhwa dicolok sama suami Non,  hemmmm?“
“sekahh…li….Hssshhhhss.”
“HAHHHH ?? Cuma sekaliii ?? “hampir bersamaan aku dan Darso berseru kaget, gila..!! laki-laki sinting mana yang membiarkan santapan lezat seperti Non Ayhwa yang bertubuh molek, berwajah cantik jelita ini menganggur selama semingguan. Non Ayhwa menjelas-kan kalau sehari setelah menjalani malam pertama, suaminya dipanggil oleh atasannya karena keadaan yang cukup mendesak hingga batal mengambil cuti. Rupanya sang suami lebih  mementingkan karirnya daripada istrinya yang cantik jelita.
“WADUHHHH Non, bukannya bilang sama saya, tau gitu saya yang nemenin Non Ayhwa honeymoon selama seminggu“ berkali-kali Darso menarik dan menekankan jari telunjuk-nya yang mulai tercelup-celup kedalam belahan vagina si pengantin baru yang mendesah sambil menekuk wajahnya yang cantik memperhatikan jari tengah darso yang tengah bekerja dengan giat menusuki belahan vaginanya.
“Enakk Nonn ? “
“He ehh…” Non Ayhwa mengangguk kecil, sebuah anggukan dari si cantik yang membuat nafsu binatang Darso semakin buas, jari tengahnya bergerak semakin cepat
Batang lidah Darso terayun menjilati lelehan keringat yang mulai mengucur di tengkuk dan leher si pengantin baru bermata sipit yang cantik jelita, tubuh moleknya menggeliat indah dalam rengkuhan nafsunya yang begitu buas dan liar. Satu demi satu pakaian si gemuk terlepas dari tubuhnya, tubuh Darso kini telanjang bulat menyusul tubuh molek si pengantin baru yang polos tanpa selembar benangpun menutupi tubuhnya yang molek.

“Enhhhh…!! Crrruttt cruuuttt” si pengantin baru tiba-tiba mencekal pergelangan tangan si gemuk sambil menarik pinggulnya ke belakang hingga jari tengah Darso tergelincir dan terlepas dari cepitan vaginanya.
Dengus nafasnya tersenggal merasakan denyutan-denyutan kenikmatan di wilayah intimnya seakan-akan sedang memeras cairan vaginanya hingga meleleh ke atas meja batu berlapiskan keramik berwarna putih bersih, tangan Darso meraup cairan vagina si pengantin baru kemudian membasuh batang penisnya yang besar panjang dengan cairan kewanitaan Non Ayhwa untuk menyamarkan bau penisnya yang tidak terawat.
“Nonnn, jilatin titit saya dong!”
Si gemuk tersenyum-senyum sambil membantu Non Ayhwa turun dari atas dudukan wastafel, setelah menekan bahu si pengantin baru agar berlutut di hadapan selangkangannya, Darso mengacungkan batang penisnya ke depan sambil menarik tangan kiri Ayhwa dan meletakkan tangannya pada batang penisnya yang besar dan panjang.
“ihhhh…. Darso, besar amat??!!“ mata sipit Ayhwa melotot menatap batang penis berukuran jumbo milik Darso yang bulatannya jauh lebih besar dari bulatan batang penisku, walaupun jika dibandingkan dari panjangnya tidak jauh berbeda dengan panjang penisku.
“Gede mana sama punya suami Non Ayhwa ? “
“Yaaaaa, gede-an punya kamu sihhh“ wajah si cantik merona merah, tangan kirinya mendorong penis Darso hingga menempel sejajar dengan perutnya yang buncit, lama sekali tangan kanan Non Ayhwa mengelus-ngelus batang besar panjang di selangkangan Darso yang bertubuh gemuk berlemak mirip seperti sosok Rony Dozer di Extravaganza
“Nonnn, jangan cuma dielus-elus doang donggg….”

“emmm… Darso maunya diapain??“ Ayhwa bertanya menantang sambil menengadahkan kepalanya ke atas, sebuah senyuman nakal mengembang di wajahnya yang jelita.
“Dijilat terus diemut sama Non Ayhwa, ceilehhh nonnnnn, pake nanya lagi, Ayo Non, jangan malu-malu he he he he”
“Digini-in ? sllcccckkkk.. ckkk ckkk slllllccckkkkk… “
“Uhh – Ahhhhh…, iy iya Nonnn terusss, terusss” Darso menekuk wajahnya ke bawah, bola matanya membeliak keenakan ketika batang lidah si pengantin baru yang basah dan hangat memanjakan batang penisnya, kepala Ayhwa terayun-ayun sepanjang kemaluan Darso, batang lidahnya terjulur-julur dengan gerakan yang teratur menjilati buah pelir dan batang penis si gemuk, sesekali lidahnya melingkari kepala penis Darso yang berkali-kali melotot keenakan menikmati basuhan batang lidah itu pada kepala kemaluannya.
“(Happppp….), HEUDEUHHH??!! Aduh Non, jangan digigit gitu dong!!“ si gemuk protes, dengan reflek ia menarik penisnya ke belakang ketika gigi Ayhwa terbenam di kepala kemaluannya..
“he he he he.” Ayhwa terkekeh nakal sambil menengadahkan kepalanya ke atas, matanya yang sipit menatap wajah Darso yang merah padam karena menahan nafsu..
“Duuu-uhhh… non Ayhwa gemes-in dechhh, sini Nonnn duduk, heuppp…nahhhhh” Darso mendudukan si pengantin baru di pinggiran meja wastafel, mata sipitnya menatap sayu ketika Darso berlutut di hadapan kaki mulusnya, kedua tangan Non Ayhwa menyilang di dada, ia berusaha melindungi kedua bukit indahnya yang semakin membuntal padat dengan putingnya yang berwarna pink kemerahan dari tatapan mataku yang liar.
“Coba ngangkang Nonn…..,Yeeh malah tambah dirapet-in “
“Malu-ah…… “wajah sicantik bertubuh molek semakin merona karena jengah, sementara Darso semakin ber-nafsu untuk mengangkangkan kaki mulus sipengantin baru, dengan sedikit paksaan Darso mengangkangkan sepasang kaki mulus sicantik bertubuh molek.

“Ohhhh… Darso hh….hhh.” nafas Non Ayhwa berdesahan ketika kepala si gemuk terbenam di selangkangannya, jemari tangannya yang lentik mengelus-ngelus kepala Darso yang tengah mengendusi wilayah intimnya.
DUGGG…!! DUGGGGG…!! DUKKKKK….!! Jantung Darso berdetak dengan keras, bola matanya memincing menatap tajam kemolekan vagina si pengantin baru, cuping hidungnya kembang kempis mengendusi aroma vagina si cantik yang begitu harum merangsang sementara kedua tangannya mengusap dan mengelus-ngelus permukaan paha Ayhwa yang putih mulus. Lidah Darso terjulur memanjang dijilatnya belahan vagina si cantik yang terperanjat ketika ujung lidahnya mengelus-ngelus lingkaran bibir vaginanya, tengah asik-asiknya Darso menjilati vagina Ayhwa, tiba-tiba terdengar suara nada dering MP 3 dari tas kecil Ayhwa yang kini tampak pasrah, aku membantu mengambilkan telepon genggam milik si pengantin baru.
“Halooooo ? “
(Hai Sayanggg…, aku jemput ya…..)
“Ehhh… jangannn…., aku lembur, hari ini mungkin aku pulang agak malam”
(Wahhhh, gimana donggg… padahal aku sudah kebelet nihhh.., pengennnn)
“Yawdahhh…, kamu istirahat dulu di rumah.. kamu pasti cape setelah bekerja seharian., tunggu aku pulang.”sambil menjawab telepon dari seseorang wajah si pengantin baru terangkat keatas, ia menggigit bibir bawahnya untuk menahan desisan kenikmatan yang hampir keluar dari bibirnya ketika mulut Darso terbuka dan  mencaplok vaginanya.
(Hhhhhh…. Kalau gitu aku tunggu kamu pulang ya sayanggg, jangan lama-lama yach lemburnya…)
“mmmmmmm… iyah aku usahakan dahhhhh…”
(Dahhh muacchhhhhh….!!)

Darso menengadahkan wajahnya memperhatikan wajah jelita si pengantin baru yang mendadak murung, ada kebimbangan yang tersirat di wajahnya setelah menerima telepon dari suaminya tercinta.
“ehhhh UJANG…. Ahhhhemmmppph!” aku memeluk tubuh mungilnya dari samping untuk mengusir kebimbangannya, kutundukkan kepalaku untuk melumat bibirnya yang mungil, kukecupi dan kulumat-lumat bibir mungilnya dengan bernafsu hingga tubuh moleknya meronta dalam pelukanku karena kehabisan nafas sementara Darso kembali melumati dan mengemut bibir vagina Non Ayhwa yang semakin becek dilelehi oleh cairan kewanitaannya yang gurih, gairah si pengantin baru semakin menggebu-gebu menyadari tubuh mungilnya yang molek kini digeluti oleh dua orang office boy sekaligus.
“AAAA…. Hhnnnnnhhhhh…. Srrrutttt… crrrutttt….” tubuh si pengantin baru menggelepar dan menggigil nikmat ketika vaginanya kembali berdenyutan dengan kuat memuntahkan cairan puncak klimaksnya sementara butiran keringat semakin deras mengucur melelehi tubuhnya, kedua tanganku meremas-remas lembut sepasang bukit payudaranya yang indah.
“Uhhh… Darso, pelan-pelan yachh.” Non Ayhwa tampak khawatir ketika kepala penis jumbo milik Darso menempel di pintu vaginanya yang mungil
“HE Ehhhh…, tahan ya Nonnnn” Darso meraup lelehan cairan berwarna putih kental yang meleleh dari sela–sela belahan vagina si pengantin baru kemudian membasuh ujung batang penisnya dengan cairan kewanitaan Non Ayhwa.
“Hssshhhh… Darso… Hsssss Hsssshhhhh…..Afffhhh” wajahnya yang cantik tergolek lemas ke samping kanan, perutnya yang rata tanpa lemak tampak kembang kempis menahan desakan-desakan kepala penis jumbo milik si gemuk yang sedang berusaha menembus cepitan belahan mungil di selangkangannya.

“BROSSSHHH….!! OWWWWW…..!!!“ mata si cantik membeliak menatap wajah Darso ketika satu sentakan hebat akhirnya membongkar cepitan vaginanya yang mungil, kepala penis berukuran jumbo milik seorang OB bertubuh gemuk berlemak kini terbenam hingga sebatas leher penis tercepit di antara sela bibir vagina si pengantin baru yang menggeliat-geliat resah ketika Darso menekan-nekankan batang penisnya yang besar panjang. Centi demi centi batang besar itu melesak semakin dalam mendesak liang vagina mungil si pengantin baru yang tersiksa kewalahan menerima desakan batang besar milik seorang OB yang terbenam semakin dalam.
“Urrrrhhhhh, aaaaa… Ahhhhhhh “ ayunan penis Darso mebuat tubuh si pengantin baru yang molek mulai terguncang mengikuti helaan batang besar yang bergerak menusuki vaginanya dengan lembut
Si gemuk membelai wajah Non Ayhwa yang jelita sambil terus berusaha mengayunkan penis besarnya yang masih sulit untuk keluar masuk dalam cepitan vaginanya.
“ohhhhhhhh…Darso…Ahhhhhh!!“ si pengantin baru mendesah panjang ketika Darso meraih tubuh mungilnya yang bersandar pada cermin besar, tangan si gemuk melingkari bokong Non Ayhwa sementara yang satu lagi membelit dan mengusapi punggungnya yang basah berkeringat, belum begitu lama Darso mendesak-desakkan penisnya tubuh si pengantin baru tampak menggelinjang dalam pelukannya, wajahnya yang jelita terlihat renyak ketika menikmati denyutan cairan puncak klimaksnya yang kembali tumpah digenjot oleh seorang office boy segemuk Rony Dozer. Darso memeluk erat-erat tubuh si pengantin baru tangannya membelai dan mengelus rambut Non Ayhwa yang semakin basah, si gemuk membiarkan si pengantin baru untuk beristirahat sejenak dalam pelukan kasih sayangnya. Aku terkekeh menatap mata sipitnya yang terpejam ada sebuah senyum kepuasan di bibirnya yang mungil.
“Nonnn, sini……sama UJANG he he he “ aku merebut tubuh mungilnya dari pelukan Darso, kubalikkan tubuh mungil itu menghadap ke arah cermin besar yang terpasang dinding toilet kemudian kutekankan punggungnya hingga dadanya jatuh merata di atas meja keramik itu.

“AHHHHHH….!! “ seiring dengan tubuh moleknya yang tersentak aku mendengar desahan keras dari bibir si pengantin baru ketika kepala penisku mengait vaginanya dari belakang.
“Ah Aaaa Ah..Ahh..“ tubuh molek Ayhwa terayun tersentak-sentak tanpa daya ketika aku mulai menembaki cepitan vaginanya yang mungil sementara Darso mengusap-ngusap punggungnya yang basah dibanjiri oleh butiran keringat, sesekali si gemuk menundukkan wajahnya untuk mencumbui dan menjilati punggung, pundak, bahu dan telinga Ayhwa yang mendesah-desah dengan nikmat.
“Uhhhhhh…, Ujanggg Janggg.. Ohh Darsoooo.. Aww Crettt serrrrrr!” Non Ayhwa kewalahan menahan sodokan-sodokan kuat batang penisku dan cumbuan Darso yang kembali menghempaskan tubuh moleknya terkulai di pantai kenikmatan puncak klimaks yang nikmat dan indah, tubuh molek si pengantin baru terus terayun-ayun dengan teratur, terdengar suara hempasan-hempasan selangkanganku yang beradu dengan buah pantatnya.
“Jam berapa sekarang??“
“Jamm 6.11 JANG…..he he he, nggak kerasa udah satu jam-an yah”
“He he he… “ aku terkekeh sambil terus memacu batang penisku menyodoki vagina si pengantin baru, berkali-kali aku memeras cairan puncak klimaksnya hingga ia mengeluh kecapaian.
“Ennnhhh Hssshh Ujangg aku cape…, Uhh!!”
“Sabar ya Nonnn, soalnya hari ini Non Ayhwa bakal super cape” Darso terkekeh sambil mengecup bahu si pengantin baru yang masih tersentak-sentak akibat vaginanya disodoki oleh batangku dari sebelah belakang.
Darso membuka ikatan tikar yang sebelumnya sudah kami persiapkan, sigemuk menghamparkan tikar itu di atas lantai toilet kemudian membaringkan tubuhnya yang gemuk berlemak terlentang dengan pasrah

Aku menoleh kearah Darso kemudian menggodanya.
“Mau ngapain lu pake ngangkang segala ? ”
“Sialan, udah cepetan….nggak usah cengengesan begitu!” Darso memakiku sambil mendelikkan matanya.
“He he he… Ploppfffhhh…, Non…, naek bom-bom car gihh!!” Aku terkekeh sambil mencabut batang penisku kemudian menggiring tubuh molek si pengantin baru untuk menaiki penis jumbo Darso.
“Haaa aaaaaa.. AHHHHHHHH!!” wajahnya yang cantik jelita terangkat ke atas mengiringi masuknya sebatang penis jumbo ke dalam jepitan vaginanya yang mungil, kedua tanganku memegangi pinggangnya yang ramping dari arah samping kemudian kubantu si cantik untuk menaik turunkan pinggulnya.
“Cleppp.. BLEPP.. BLEPPP.. BLEPPP… Clepphhh…” rambutnya yang indah basah bergerak bergelombang ketika tubuh moleknya tersentak-sentak ke atas dengan kuat saat sebatang penis berukuran jumbo disodokkan oleh pemiliknya menyodoki belahan vaginanya yang mungil
“Dad Darrssoohh pelanhhh-plannhhh… Annnhhh.. Oww Owww!!”
Darso menghentak-hentakkan batang penisnya dengan sekuat tenaga, kedua tanganku kini menarik kedua lengan Non Ayhwa ke belakang hingga susunya membusung ke depan. Mata si gemuk mendelik menyaksikan payudara Ayhwa yang terguncang hebat dengan gerakan yang indah, permainan Darso semakin lama semakin kasar dan liar hingga tubuh molek itu terlompat-lompat tersentak kuat tanpa daya di selangkangannya. Entah berapa kali tusukan-tusukan kasar itu merobohkan si pengantin baru dengan hantaman puncak klimaks.
“JREBBB… Nggeehhhhhhhhhh… Crrutttt.. crrrut!!“ Ayhwa merasakan tubuhnya yang molek terkulai lemas dan roboh dalam pelukan Darso, nafasnya tersenggal dan bibirnya yang mungil termegap-megap kehabisan nafas, habis sudah tenaganya yang terakhir disedot oleh puncak klimaksnya yang berdenyutan.

Aku menaiki buah pantat si pengantin baru yang sudah terkulai menungging tanpa daya, kutempelkan kepala penisku pada belahan buah pantatnya. Kedua tanganku mencengkram dan menekan buah pantatnya seperti sedang membelah duren, kutatap lubang kecil yang masih perawan di belahan pantatnya yang bulat padat, ia melenguh ketika kepala penisku mulai menekan pintu anusnya yang mengkerut-kerut ketakutan, dengan kasar kepala penisku menggedor pintu anus Non Ayhwa yang masih membandel.
“Ngeh.. Ngehh, Ngehhh nnnnnnngggeeeehhhhhhhhh “ Ayhwa merengek-rengek ketika merasakan liang anusnya dipaksa semakin melar, anusnya terasa sesak ketika batang besar seorang officeboy menyodominya,
“SAKITTTTTTT!! OAAWWWW…!!” tubuh moleknya terperanjat kesakitan ketika batang penisku sukses melakukan tugasnya menyodomi liang anusnya.
“Haaaaaaaaaaaa!!“ hanya suara itulah yang kami dengar dari mulutnya yang ternganga lebar matanya yang sipit membeliak-beliak ketika penisku dan penis Darso bergerak teratur bersamaan menusuki vagina dan anusnya sekaligus, dengan setia  tusukan-tusukan penisku dan Darso mengantarkannya berkali-kali menuju puncak klimaks.
“Cretttt… Cretttt… serrrrr…., Crettt Crettt Serrrrrrr…..”
:”KECROTTTT… CRRROTTTT ARGGGH….”
“URRRHHHHH….  CRRROOOOOOOOTTTTT……!!”
Aku dan Darso melilit tubuh moleknya yang terkulai lemas di antara himpitan tubuh kami berdua. Si cantik molek termegap bercucuran keringat seperti halnya keadaanku dan Darso yang basah kuyup sementara  suara desahan dan dengusan nafas kami bertiga terdengar keras saling bersambutan. Ayhwa  terdiam kecapaian tubuhnya yang molek terkulai lemas tak berdaya di antara himpitan tubuh dua orang office boy berkulit coklat kehitaman, kedua matanya yang sipit terpejam – pejam sementara bibirnya yang mungil sesekali termegap berusaha untuk mengambil nafas.

****************************
Sekitar jam 10.30

Seorang karyawati cantik diantar pulang oleh seorang Office Boy dengan menggunakan sebuah sepeda motor bebek dukun berwarna merah, dengan lemas tubuhnya yang molek merosot turun kemudian melangkah limbung  ke dalam rumahnya di daerah perumahan XXXXX. Ia melangkah mendekati sebuah pintu yang tertutup rapat perlahan-lahan tangannya membuka dan mendorong pintu kamar di hadapannya, air mata meleleh jatuh di pipinya menyaksikan seorang pria yang tengah tertidur dengan pulas di atas sebuah ranjang yang kini telah ternoda. Sebuah penyesalan terucap dari bibirnya yang mungil
“Maafkan Aku.. Hkk.. Maafkannn… Hhh Hkkk Hkkkkkk…”, setelah mengusap airmata yang melelehi pipinya dengan perlahan ditutupnya kembali pintu kamar itu
Ia mengambil handuk dan membersihkan dirinya dengan kucuran air shower hangat, di bawah kucuran air shower hangat wajahnya kembali merona merah bibirnya yang mungil mendesis memanggil nama dua orang office boy di kantornya.
“UJANGGG… Darsooooo… Hssshssss… ah ahhhh“

Office Cutie 3 : Gairah Di Rumah Tua

Rumah tua sereem
Di pagi hari yang cerah ini, aku bersiul-siul dengan gembira, kugiring dan kuparkirkan kendaraan mewahku, motor bebek dukun berwarna merah keluaran berpuluh-puluh tahun yang silam. Di depan kaca spion, kurapikan rambutku dan kusisir dengan rapi, Ck Ckk. Ckkk, betapa tampannya aku ini, bibirku yang tebal selalu menebarkan senyuman yang ramah, mataku yang bulat besar begitu indah mempesona, apalagi jika Aku menatap bokong para gadis cantik yang berseliweran di hadapanku. Ahhhh…ssshhh oohhh….my office, my playground, my PALACE!! Sebuah senyuman mengembang di bibir seksiku, gimana rasanya jika aku menjadi atasan disini, pasti asik…  

“SELMYYY….kesini kamu!!“ aku berteriak memanggil seorang pegawai tua yang tergopoh-gopoh menghampiriku, ia menunduk ketakutan menatap lantai, kupandangi sosok kurus itu dari ujung rambut sampai ke ujung kaki, ckk ckkk.. ckkkk…, begitu kotor, dekil, tak terawat.
“KAMU TUH BEGO YA?? Muka saya ini ada di sini, bukan di bawah kaki kamu, liat ke sini…! Coba kamu jawab yang benar, dimana muka saya??“ kubentak pegawai tuaku yang tidak berguna itu.
“Di pantat Pakkkkk….. !!!“ Selmy menatapku, ia menjawabku dengan mimik wajahnya yang meyakinkan.
“HAHHH………??? “ Aku tersentak panik ketika mendengar jawaban SELMY pegawai tuaku, dengan reflek tanganku meraba-raba pantatku yang sekal, tiba-tiba…
“BLETAKKKK ! HEU….DUHHHHHH……… Ehh Ibuu…??!! “ kepalaku terdorong keras ke belakang  ketika sebuah getokan keras yang berasal dari sebuah payung mampir di jidatku. Aku gelagapan ketika khayalan tiba-tiba saja berubah menjadi kenyataan, di hadapanku berdiri sesosok tubuh kurus dengan wajahnya yang keriput, matanya mendelik tidak kalah besar dengan mataku yang membeliak karena terkejut, sementara tangan kirinya memegangi sebuah payung berwarna biru muda yang sebelumnya dipakai untuk mengembalikan kesadaranku, dengan suara kerasnya. (BLETAKKKKK!!!)

“Kamu nggak denger saya teriak-teriak dari tadi HAHHH….!! Dipanggil-panggil MALAH CENGENGESAN NGGAK PUGUH!!“
Aku terbata-bata ketika seorang wanita tua keriput menimpukiku dengan suaranya yang melengking-lengking, nafas Bu Selmy ngos-ngosan karena nafsu amarah yang memuncak sampai keubun-ubun.
“Panggil Shasha sama Vania, suruh mereka keruangan saya, CEPATT…!! nggak pake lama….!! ”
“Saaa….saya Buuu?? (waduhhhh, apakah aku bakal di foursome bareng sama bu Selmy ?? NGEHEKKKK…!!NOOOO….!!)“ Mata-ku membesar indah, aku yang rajin dan teliti mencoba memastikan perintah bu Selmy, telingaku kembali terasa sakit ketika  mendengar suaranya yang melengking tinggi.
“YA IYA-LAH KAMUU….!! EMANGNYA SAYA YANG NAMANYA UJANGG…!!?? BLAMMMMM!!!!” Bu Selmy membanting pintu mobilnya kemudian dengan sigap si penyihir tua memarkir mobil mewahnya. DIITTTT…. Diiiiittttt!! suara klakson mobil Bu Selmy membuatku setengah berlari, aku segera melaksanakan perintahnya menjemput Nona Shasha yang cantik.
“Tokkk.. Tokkkk…  “
“Yaa, Masukkk….” terdengar suara merdu Non Shasha, aku segera menerobos masuk, kututup pintu di belakangku, aku menatap wajahnya yang cantik, tubuh mulusnya tampak begitu seksi, aku lupa diri menyaksikan keindahan sepasang paha mulusnya. Kuraih tubuh mulus Non Shasha yang kelabakan menahan nafsu birahiku, kulumat dan kukecupi bibirnya yang mungil, kuemut dan terus kuemut hingga tubuh mulusnya. Ia gemetar menahan nafsu birahi yang mulai membakarnya, Nona Shasha menarik bibirnya untuk mengambil nafas, wajahnya merona merah ketika aku menatap wajahnya, untuk sesaat kami hanya berdiri berpelukan, saling memandang satu sama lain.

Kukecup lembut bibirnya kemudian kudorong tubuh mulusnya duduk di pinggiran meja, kedua pahanya yang mulus mengangkang ketika kurogohkan tanganku masuk kedalam rok mininya, aku tersenyum karena Non Shasha mulai menuruti permintaanku, hari ini ia mulai tidak mengenakan celana dalamnya, kucelupkan jari telunjukku hingga amblas terbenam, digigit belahan vaginanya. Kutusuki belahan sempit di selangkangannya hingga ia menggeliat keenakan, tengah asik-asiknya aku mengeluar-masukkan jariku tiba-tiba aku mengingat perintah Bu Selmy….
“Non Ehmmmm…itu Nonnnnnn…, Euuuuuuu, tadi Bu Selmy manggil Non Shasha sama Non Vania” aku berbisik di dekat telinganya tanpa menghentikan gerakan jariku yang semakin aktif menusuk-nusuk belahan vaginanya.
“Ahhh Ahhhh.. Ahhhh… Hahhhh…?? !! Aduh ujang….!!, Kenapa nggak bilang dari tadi, minggir ah..!! Duhhhh KAMU…!!” Non Shasha yang tengah sibuk menikmati gerakan-gerakan jari telunjukku tiba-tiba tersentak kaget, suara-suara ah dan ah-nya mendadak lenyap, dengan gemas dijewernya kupingku hingga aku mengaduh kesakitan, ditepiskannya tanganku hingga jariku terpelanting dari jepitan bibir vaginanya.
Nona Shasha segera merapikan roknya. Setelah menyambar sebuah map di atas meja, ia meninggalkanku yang masih horny menatap punggungnya yang menjauh, cegluk, cegluk, berkali-kali aku menelan ludahku, kuusap-usap kupingku yang terasa sakit, biar sakit namun hatiku terasa begitu gembira., seperti orang yang sedang jatuh cinta, I love U Non Shasha. Cintaku, sarung penisku.
“Hnnnhhhhhhhhhhhhhhhh…“ Aku menghela nafas panjang-panjang untuk meredakan nafsu birahiku, dengan langkah gontai aku mengekori langkah Non Shasha
Aku menolehkan wajahku ketika mendengar suara langkah-langkah kecil yang terburu-buru. Ahhhh, Vaniaku  berlari-lari kecil , pikiran kotorku tiba-tiba meledak dengan keras. Hmmmm, apakah Vaniaku yang cantik juga tidak mengenakan celana dalam sesuai dengan permintaankuku??

Aku membalikkan tubuhku kemudian berbelok ke arah dapur, Lohhhh, ngapain si Sarif bengong di sisi tangga.
“Riiffff, Sariffff….,WOOOIIIII “ Aku berteriak keras untuk menyadarkannya
“HEUUUUUH….!! GELO SIAHHH!!“ Sarif tersentak kemudian mengumpat kesal.
“Lu kenapa Rifffff ?? “ Aku bertanya padanya.
“Jangggg, Sini…tadi gua ngeliat itunya Non Vania, pas dia turun tangga, nggak sengaja gua nengok ke atas, gua  ngeliat MEMEKNYA…, gila Jangg, Gua sampe shock!!“ Sarif menarikku, kemudian berbisik di telinggaku.
“Ssssttt…jangan bilang siapa-siapa Rifff, bahaya tau!!“ aku berusaha melindungi kehormatan Non Vania.
“Hahh ?? napa gitu ?? “
“Bisa dipecat lu nanti, disangkanya lu udah berani kurang ajar , bertingkah mesum…..! melakukan pelecehan seksual…tidak senonoh!“
“Oooooooo, Ehhh lu jangan bilang siapa-siapa ya Jang” bibir Sarif membentuk huruf O, kemudian ia berbisik dengan cemas
“Iya Riff, tapi traktir gue makan siang ya“
“Iya.., iya…., tapi awas lu…!! jaga bacot lu yang rada bawel itu.”
“Beres Rifff, tenang aja, rahasia lu aman bersama UJANG…, he he he.” Aku memberikan janjiku sambil menepuk dada..

*************************
Hari Jumat, jam 19.01
 Aku menghampiri mobil Honda Jazz berwarna silver metalik yang menjemputku di depan rumah kostku dan masuk ke dalamnya. Aku duduk mengangkang di bangku belakang, permukaan celanaku menggembung, membengkak tanpa dapat kukendalikan. Nona Shasha menyetir di belakang kemudi sedangkan Nona Vania duduk di sebelahku, ekor mata Vania sering melirik ke arah selangkanganku, aku membuka resleting celanaku kemudian menarik batang penisku keluar, kuraih tubuh mungil Vania dan kupangku di pangkuanku.
“Ihhhh., Ujangg norakk…!! ntar ada yang liat……., Ujangg”
“Ahhh kalemmm aja Nonn, sepi iniiii.”
“UJANGGG…ada pengamenn….!! Ada anak kecil!” Nona Vania tampak khawatir ketika aku memamerkan batang penisku, seorang pengamen cilik mendekati mobil kami, dengan liar kucumbui batang leher Non Vania hingga ia merintih lirih.
“Hahhh??“ pengamen cilik itu terkejut setengah mati menyaksikan-ku yang tengah memangku Nona Vania, tanganku  masuk ke dalam rok mininya, cup.., cupphhh, ciumanku mendarat di leher, rahang dan pipinya, kemudian kulumat bibir mungilnya dengan bernafsu.
“Ehhhhh….,Emmm.., jangan bilang siapa-siapa ya…^_^ ” Non Shasha tersenyum ramah sambil memberikan uang 10 ribuan, pengamen cilik itu terus menengok ke belakang, sebentar menatap Nona Shasha yang tersenyum ramah, kemudian kembali menengok lagi ke belakang.
“UJANGGG…!! Idihhhh….Euuuufffhhhh“ Nona Vania meronta dari pangkuanku ketika aku hendak berbuat lebih jauh, aku membiarkannya meloloskan diri, bukan karena aku rela melepaskan tubuh mungilnya yang mulus namun karena mobil yang kami tumpangi mulai memasuki kawasan yang agak ramai, jalanan mulai kembali sepi ketika mobil kami memasuki sebuah jalan kecil, agak berlumpur di daerah pedesaan.

Sasha
“Di mana ini Nonnn ?? “ sambil menengok kesana kemari aku bertanya pada Non Shasha.
“Rumah ini baru disita sama bu Selmy karena pemiliknya nggak bisa bayar hutang..  “ Nona Vania menjelaskan secara singkat sambil keluar dari dalam mobil.
“Yaaaa…, sebenarnya sich kami takut….waktu bu Selmy meminta kami untuk memeriksa rumah ini…, karena…itu kami ngajak kamu…Jang” Nona Shasha menjelaskan dengan singkat, aku buru – buru membuka pintu mobil. Setelah berada di luar kurenggangkang tubuhku kesana kemari untuk mengusir rasa pegal yang menyiksa selama perjalanan, hemm, suasana yang masih asri, masih banyak pohon-pohon besar ditepi jalan setapak menuju rumah tua itu…
“Ujanggg.., Emmmm, kamu duluan gihhh….” Nona Vania dan Non Shasha mendorong punggungku,
“Lohhhh… kenapa ?? Ehhhh… Uhhh…“Entah kenapa Aku tiba-tiba bergidik ngeri, mataku menelusuri jalan setapak menuju rumah tua besar yang menyeramkan, berkali-kali kepalaku menengok ke kanan dan kiri, gelap, seram, duh, batang penisku sampai berkedut karena ketakutan,akhirnya aku sampai juga di depan pintu rumah itu itu dengan tangan kanan kudorong pintu rumah tua itu, sementara tangan kiriku memegangi emergency lamp yang diberikan oleh Nona Shasha.
“Krekeeettttt…..!!! “Bunyi pintu tua itu serasa menyayat telinggaku,
“Hiiii… Hiiii hiiii Hiiii Hiiiii….!! “
“ANJRITTT……!!“ aku berteriak keras, jantungku melompat keluar mendengar suara cekikikan yang mengerikan, tepat disebelah batang kemaluanku, sementara “Ujang junior” terjengkang tak sadarkan diri..

“Awwwww!!“ Nona Shasha dan Nona Vaniapun menjerit dan melompat sangking kagetnya. Dengan terburu-buru tangan kananku merogoh Hpku yang mendadak berbunyi dengan nada dering alarm yang membuat bulu kuduk kami merinding.
“UJANGGG…ngapain sihh pake nada kaya gitu!!“ Nona Vania mencubit punggungku dengan gemas.
“Iya nihhhhhh…bikin kaget aja!!!” satu cubitan keras Non Shasha ikut mendarat di punggungku.
“BEUUUUU……!! Bukan non Shasha sama Non Vania aja yang kaget..!! Saya juga kagettt!!” aku buru-buru mematikan suara Hp-ku yang membuat kami bertiga hampir lari terbirit-birit ketakutan, sementara suara angin yang berlari di antara pepohonan membuat suasana hatiku semakin tidak menentu, akhirnya kami bertiga memberanikan diri masuk ke dalam rumah tua itu (jangannnn dorong-doronggg Nonnn, aku juga tatut nehhhh, aku berteriak didalam hati), sebuah rumah tua di tengah kawasan perkebunan yang jauh dari keramaian, dengan korek api kunyalakan lampu cempor yang tergantung disudut ruangan.
“WAhhhh…Nonnnn, koq kaya di warung remang-remang yahh suasananya, he he he he he…” Aku terkekeh sambil mematikan emergency lamp di tangan kiriku. Nona Vania dan Nona Shasha duduk saling bersebelahan di sebuah kursi sofa tua panjang.
“kamu sering ya Jangg, ke tempat seperti itu ?? “ Nona Vania menatapku dengan tatapan mata curiga.
“Enggakkkk, kan ada Non Vania sama Non Shasha yang lebih cantik dan bohay…., ngapain saya ke tempat seperti itu ??”
“Dasarrr… , nggak usah ngerayu gitu dehhh, nggaku ajaa…, kamu sering kan ke tempat seperti itu??” Nona Shasha ikut mendesakku sambil menatapku dengan tatapan nakalnya.

Vania
“Enggak Nonnn, Suerrrr….. “ Aku mengacungkan kedua tanganku keatas membentuk huruf V dan DHUARRRRR…..!!!, GLEKKK, CEGLUK!! aku segera menarik tanganku turun ketika tiba-tiba terdengar bunyi geledek yang memekakkan telinga (bibirku berkata tidak, tetapi hatiku menggakui segalanya). Suara angin bergemuruh, berlari kencang diantara pohon-pohon besar yang tumbuh dengan subur di sekeliling rumah tua itu.
“WAhhhh…sepertinya bakal turun hujan deras ya??“ Nona Shasha bangkit dan melangkah ke dekat jendela, tangan mungilnya mendorong daun jendela hingga terbuka merekah ke samping, ia hanya mendesah pelan ketika aku memeluk tubuh seksinya dari belakang, satu persatu pakaian Nona Shasha mulai berjatuhan ke lantai hingga tubuh seksinya telanjang bulat tanpa selembar benangpun menutupi tubuhnya, kuremas induk payudaranya dengan gemas, hingga ia mengaduh kesakitan.
“Ahhh… Ujangg pelan-pelan dong…..mmmhhh..mmmmnnn “ bibirnya yang mungil agak manyun, aku hanya terkekeh sambil menggerayangi dua gundukan bukit susunya yang semakin mengenyal, kusumpal bibirnya dengan bibirku untuk meredakan keluh kesahnya. Kupeluk dan kubelit tubuh mulusnya dengan erat, kudorong hingga ia duduk di tepian jendela, kedua kakinya yang halus mulus mengangkang lebar, seolah-olah memperlihatkan keelokan wilayah intimnya kepadaku yang sedang melotot sambil berlutut di antara kedua kakinya yang terbuka lebar.
“WAHHH….Nonnn…segerrrrrr…mulussss, hehehe“ kedua tanganku merayapi permukaan pahanya yang halus mulus,  sementara kepalaku mulai terbenam di selangkangannya.
“aaaaaaaaa…. Ahhhhhh, aaaaaaaaaahhsss!!“ nafas Nona Shasha tersendat-sendat ketika aku mulai menarikan batang lidahku menggelitiki bibir vaginanya yang merekah, aroma harumnya yang semerbak membuatku semakin bergairah.

“Slllccckkkk…,, Ckkkkkk.. Ckkkk Cpphhhh… Sllllccckkkkk” dengan tekun lidahku berkali-kali mengoreki belahan vaginanya yang mulai basah dilelehi cairan kewanitaannya yang gurih dan lezat.
“uhhhh. ?!.. awwhhhhsss…. aaahhhh“ Nona Shasha semakin resah gelisah ketika ujung lidahku menusuki clitorisnya, kukaiti daging mungil itu hingga pemiliknya tersentak sambil mendesah dan merintih keenakan, kuciumi belahan vaginanya dengan rakus  sebelum kuemut kuat-kuat bibirnya
“Aduhhh, jangannn… Nonnn saya maluu!!“ aku pura-pura malu ketika Non Shasha dan Non Vania melepaskan pakaianku, mereka hanya tertawa kecil ketika aku pura – pura ketakutan.
“Ihh, Ujang, jangan begitu ah.., sebell!!”
“Iya… Pura-pura nehhh, padahal aslinya nggak kaya gini…, buas dalam bercinta he he he he….”
“WAHHHH…belajar dari mana Nonn?? koqq jadi pada jago nyepong sihh?“ aku memuji ketangkasan lidah dan mulut mereka yang mempermainkan batang kemaluanku.
Kusodorkan batang penisku ke depan masuk kedalam rongga mulut Nona Shasha yang ternganga, HAPPPPPP….., mulutnya mencaplok kepala penisku, kedua pipinya tampak kempot ketika mengemut-ngemut kepala penisku, kutarik bahunya agar ia berdiri, kurendahkan batang penisku dan kutempelkan kepala penisku hingga menggesek belahan vaginanya, desahanku dan rintihan lirih Nona Shasha saling bersahutan ketika gesekan demi gesekan yang nikmat itu membuat kami semakin terlena jauh kealam birahi yang penuh dengan kenikmatan.
“aaaaaaaaaaaa…. Ahhhhhhhh…. Bllllsshhhh“ kukait belahan vaginanya dengan batang penisku, dengan sedikit paksaan melesatlah penisku mengarungi lorong sempitnya yang terasa hangat dan nikmat,

Lubang vagina Nona Shasha berdenyut – denyut, mengenyot dan memijati batang kemaluanku yang sedang asik berendam semakin dalam menusuk liang vaginanya yang peret. Dengan terengah Nona Shasha menengadahkan wajahnya menatap wajahku, kupandangi wajahnya yang cantik dan sensual, matanya tampak sayu, keringat-keringat lembut mulai membasuh tubuh mulusnya yang mengkilap indah dibawah pancaran sinar lampu cempor.
“Ujanggggggghhhhhh…, enakkkkk…. Ohhhhhhhhh!!“ Nona Shasha menggeliat resah ketika aku mulai mengayunkan batang kemaluanku, merojok-rojok belahan nikmat di selangkangannya, sesekali penis besarku tertekuk ke kiri dan kanan sangking sempitnya belahan vaginanya yang sedang kusodok-sodok dengan penuh nafsu binatang yang semakin membara di dadaku, kedua tanganku mencapit pinggangnya yang ramping, tubuh mungilnya tampak kewalahan ketika aku semakin mempercepat irama sodokanku, sesekali tubuhnya bergetar hebat menahan rasa nikmat yang mendera vaginanya dan menyengat tubuh mungilnya yang putih mulus.
“Awwwwwwwww…. Crrrtttt… rrrtttt… Crrrrrr” tiba-tiba saja tubuh mungil Non Shasha mengejang selama beberapa saat kemudian terkulai lemah sambil bersandar pada tubuhku, kupeluk erat-erat tubuhnya, ia baru saja dihajar rasa nikmat yang begitu kejam memeras tenaga dan keringatnya yang mengucur dengan deras.
“Ujanggg…, jangan disitu.., aku nggak suka….” Nona Shasha protes ketika aku membalikkan tubuhnya dan berusaha mengait liang anusnya yang mengkerut ketakutan. Aku sama sekali tidak menghiraukan keluh kesahnya, dengan paksa aku membongkar lubang duburnya.
“Auhhhhhh… Ngggghghhh…!! Pelannnhh.. Ohhhhh Pelannnnhhhh” tubuhnya terperanjat ketika dengan kasar kepala penisku menyusup masuk ke dalam jepitan lubang anusnya, ia kembali memekik keras ketika aku menghentakkan batang penisku,

Aku tersenyum merasakan batang besar panjang di selangkanganku tertancap kokoh di jepitan anus Non Shasha. Kutarik pinggulnya sambil menyodok-nyodokkan penisku menyodomi liang anusnya yang mungil, aku semakin bersemangat menyodomi Non Shasha ketika mendengar suara desahan nafasnya yang tersendat disertai rengekan-rengekan kecilnya yang terdengar semakin menggairahkan.
“Vaa.. Vaniaaa..?? Ohhhhhh…mmhhh, Vania, jangan ahh, aduhh mmmhh… Vania sadarrr..Ohhhh Mmmmhh Mhhhhh“ Shasha tampak gugup ketika Vania memeluk tubuhnya sambil menggerayangi bulatan susunya,  bibir Vania melumat dan mengulum bibirnya. Untuk beberapa saat Shasha berusaha menolak perlakuan Vania, namun nikmatnya perlakuan Vania malah membuatnya seperti kehilangan kendali, ia memeluk tubuh Vania dan membalas melumat bibir mungil Vania, kuikuti tubuh Shasha yang merosot turun hingga meringkuk menungging diatas lantai kayu, kutarik kedua tangannya kebelakang, tubuhnya tersentak-sentak dengan kencang mengikuti irama sodokan-sodokan batang penisku yang semakin cepat dan kuat.
“PLOKKK.. PLOKKK PLOKKKKK…..” terdengar suara persetubuhan yang semakin memanas ketika aku menunggangi tubuh mungil Nona Shasha dengan liar dan kasar, erangan dan rintihan kecilnya terdengar begitu merdu menggairahkan ditelinggaku. Kutusuk dan terus kutusukkan batang penisku menyodomi liang anusnya yang sempit dan kering.
“Ahhhh… aaaaaa… Aooowwwwwww!!“ Nona Shasha melolong keras ketika aku menjejalkan seluruh batang kemaluanku ke dalam liang anusnya yang mulai memar kemerahan akibat dihajar olehku.

“Ehmmm, Ujang…pelan-pelan dong, Oww…gggggakkkkkhhhaa….jangan kasar gitu auhhhh“ Nona Shasha mencoba merayuku di tengah suara nafasnya yang tersendat-sendat, aku terus menyodok-nyodokkan batang penisku merojoki liang anusnya tanpa pernah menghentikan gerakanku sedetikpun. Semakin keras ia mengeluh, semakin kuat pula kuhentakkan batang penisku menyodominya, sementara jariku terus mengucek-ngucek klitorisnya, Non Shasha hanya dapat meringis pasrah menghadapi serangan brutalku yang sedang menyodomi liang anusnya.

“Awwww. Krrrttttt…….kkkkrrrtttttt… “kuku Nona Shasha mencakar-cakar lantai kayu itu, punggungnya berkali melengkung terangkat ke atas, tubuh mulusnya gemetar dengan hebat, ia seperti sedang menahan sesuatu yang akan meledak dengan nikmat di dalam vaginanya, terdengar suara erangan kerasnya yang menggairahkan, di sela-sela desah nafasnya yang tersendat-sendat.
Cuurrrrttttttt crrrutttttt…….., tubuh Nona Shasha mengejang ketika aku membenamkan batang penisku dalam-dalam, telapak tanganku segera membuka ke atas menampung cairan vaginanya yang meleleh, kusekakan cairan vaginanya merata pada buah pantat Nona Shasha yang bulat padat, aroma cairan vagina non Shasha tercium yang kuat di udara membuatku semakin terlena menusuki liang anusnya yang tersungkur-sungkur mengikuti irama sodokan-sodokan kuatku, PLAKK..!! PLAKKK…!! PLAKKK…..!! buah pantat Non Shasha yang bulat padat terguncang dihantam oleh selangkanganku.
“Plophhhhh” terdengar suara letupan keras ketika aku mencabut penisku dari jepitan anus Non Shasha kemudian kupukuli buah pantatnya seperti sedang bermain drum. Non Shasha menarik pinggulnya ketika jari telunjukku menyentuh lingkaran otot anusnya yang memar merekah, kutundukkan kepalaku dan kuciumi dubur Non Shasha yang sudah teruji kelayakannya dalam memberikan kenikmatan, liang anus yang mungil sempit.
“UJANG!“ aku menolehkan kepalaku ke arah suara Non Vania yang mendesah memanggilku, ia duduk bersandar santai mengangkang di atas kursi sofa tua itu, kemolekan selangkangan Non Vania seakan menghipnotisku yang merangkak mengejar wilayah intimnya.
“ahhhhhh…., UJANGhhhhhhhnn!!” kedua tangan Non Vania mendekap dan membelai kepalaku yang terbenam di selangkangannya, kuhirup aroma vaginanya yang segar, kujulurkan lidahku mengulas-ngulas belahan vaginanya yang berwarna pink.

“Eummm, slllccckkk.. ckkk mmm ckkk, itu Nonn,umm siapa nama pegawai baru, yang bule itu nyammmm.. mmmmm.. yang baru lulus kuliah itu lohhh…muahhh” sambil menikmati hidangan vagina Non Vania aku mencoba mengumpulkan informasi “daging segar impor”..
“Hati-hati JANG, ituuu…, ohhhh…., bias habis nanti kaa..mhuuhh hhhsss, dia ahli bela dir” Non Vania berusaha mengingatkanku.
“Wahhh,kalau soal bela diri saya juga hebat loh Nonn…., pokoknya Ujang mah nggak ada lawannya dehhhhh, He he he duhhhh memek!” kuemut bibir vagina nona Vania dan kugigit kecil hingga ia terperanjat dan menjewer kupingku, aku bangkit berdiri sambil menyodorkan permen loli besar di selangkanganku.
“he he he.., ihhh Ujangggggg….. “
Non Vania menggeser posisinya diraihnya batang penisku, jemari tangannya yang lentik mengelus-ngelus buah terong besar panjang yang menghiasai selangkanganku kemudian cuppp.. cupppp.. cupppp.., berkali-kali ciumannya mendarat di kantung pelir, batang dan dikepala penisku, lidahnya yang basah dan hangat menari-nari melingkari permen loli kesukaannya, dihisap dan diemutnya kuat-kuat kepala penisku hingga bibirku yang tebal termanyun-manyun keenakan, bola mataku mendelik ketika Non Shasha ikut mengeroyok batang penisku, kedua tanganku membelai kepala dua orang gadis Chinese bertubuh mungil putih mulus tengah asik menservice batang kontolku. Nona Vania mengangkangkan sepasang paha mulusnya kesamping, kutatap dalam-dalam matanya yang sayu, sepasang mata yang haus akan kenikmatan, sepasang mata sipit yang mengharapkan kenikmatan dariku. Kuletakkan kepala penisku pada belahan vaginanyakemudian kucokel-cokel belahan vaginanya dengan kepala penisku, slopp…slopppp….slllloooppphh…

“Ujanggg.., jangan digituin ah….aaaa”
“Abis digimanain dong Non??“
“Ya, dimasukin dong ahh, pake nanya lagi he he he” Nona Vania mencubit lenganku yang sedang menggerayangi payudaranya.
“bener nihhh pengen dimasukin??“aku menggodanya
“He eh” ia menjawab sambil mengangguk kecil, Vaniaku yang cantik tersenyum manis menatapku.
“Yaa udahhh kalau Non Vania maksa, saya cuma bisa menuruti keinginan Non Vania…tahan dikit nonnnn, titit saya juga pengen masuk ke dalam liang memek Non Vania yang peret… he he he….”
“Nnnngggghhhhh…Nnnnnnhhh…ooohhhhhhh!!” berkali-kali  tubuh mungil Vaniaku yang cantik menggelinjang dan menggigil hebat menahan desakan kepala penisku yang berusaha merojok vaginanya, mata sipitnya terpejam rapat-rapat, keningnya mengkerut membentuk angka “11”, sedangkan mulutnya membentuk angka O besar disertai desahan panjangnya yang terhembus keluar ketika batang penisku menerobos membelah belahan liang vaginanya yang mungil, nafasnya terengah-engah seperti sedang berlari dipacu oleh nafsu birahi yang menggelora, butiran keringat mulai mengucur dengan deras di lehernya.
“Uhhhhhh…. Hsssshhhhh… ujaann..nnnggghhhh “ tubuh mungil Vagina menggeliat resah ketika batang penisku tertancap dengan semakin sempurna di jepitan vaginanya.
“Gimana Nonnnn? nggak sakitkan?? rasanya cuma seperti digigit semut aja koqqq” kedua tanganku mencapit pinggangnya.
“semutnya.., ehhh semuttt ahhhhhhhhh“ Nona Vania gelagapan ketika aku mulai mengayunkan batang penisku dengan gerakan yang liar dan brutal, sementara Nona Shasha memeluk tubuhku dari belakang, sebuah bisikan-bisikan  mesum dibisikkannya ketelinggaku.

“Terus ujang, terussss, ewe Vania, iya betul, entot terus Jangg sampai kamu puas, gimana rasanya jangggg, enak ya rasa memek Amoy… hmmmmmm? ohhh UJANGGG… kamu kuat bangeeetttt..sichhhh cupp cuppp…, cupph” Nona Shasha menciumi pundakku, aku semakin liar mengayunkan batang penisku ketika mendengarkan desahan-desahan mesum Nona Shasha.
“Ahhhh… Aaaaaaaaaa…sebentarrrrhhh ahhhh Ujjnnanggghhhh” Nona Vania kewalahan menerima sodokan-sodokan liarku, bibirnya menceracau tidak karuan, aku bertambah nafsu merojoki vaginanya ketika mendengar rengekan-rengekan kecilnya, kupompa hingga ia terguncang hebat dan mengejang, Crrruuuu… crrrrrrrrrrttttt…penisku disiram oleh cairan vaginanya yang terasa panas nikmat, kuaduki vaginanya perlahan-lahan, kuusap keringat yang mengucur deras didahinya, kutundukkan wajahku merapat kewajahnya, bibirku mengecupi bibir mungilnya yang termegap – megap berusaha mengambil nafas-nafas panjang.
Kubalikkan tubuhnya menungging, kutekankan punggungnya hingga susunya tertekan di bangku sofa, kutarik bokongnya ke atas, kutekan buah pantatnya bagaikan seorang pedagang yang tengah membelah buah duren, kutempelkan kepala penisku di pintu kenikmatan anal sex, terdengar lenguhan panjang ketka perlahan-lahan kepala penisku mulai terbenam kedalam anus Nona Vania.
“Unnnhhhhh…Ujangggggg… aaaaaaaaaaa!!“ Nona Vania mendorongkan tangan kirinya kebelakang, berusaha menahan gerakan penisku, kutarik kedua tangannya ke belakang sambil menghentakkan batang penisku dengan sekuat-kuatnya.
“aaaaaarrrrrrrrrrrrrrrrhhhhhhhhh…………………. “ gejolak nafsuku semakin meledak-ledak ketika punggung Nona Vania melengkung ke atas disertai suara erangan kerasnya yang merdu, jantungku serasa berhenti berdetak ketika penisku melesat menyodomi duburnya.

“ahhhhh haaaahhhhkkkk…owwwww…owwwww…..awww…aaakkk” kutunggangi anus Vania dengan penisku, kenikmatan itu seperti asik memeras keringat ditubuhku dan tubuhnya yang semakin basah kuyup oleh butiran keringat yang mengucur deras, mengguyur tubuhku dan tubuh mulusnya yang terayun dan tersentak disodomi oleh batang penisku.
“he he he., gimana non.., asik nggak ?? “ aku bertanya  sambil menggenjot-genjotkan batang penisku merojok liang anus Vania, hanya erangannyalah yang kudengar, ia terlalu sibuk menahan serangan liarku.
“ahhhhhhhh… aaaaaaaaaaa….Crrrrrrrr….” kujambak dan kutarik rambut Non Vania ke belakang sambil menyentakkan penisku dalam-dalam, kujilati belakang telinganya yang tengah menggigil mencapai puncak klimaks, sementara batang penisku tetap terayun dengan kuat.
“DHUARRRr….!! EHAKKK CROOTTT.. KECROOTTTT…..” Suara geledek yang sangat keras membuat-ku kehilangan kendali, mataku mendelik ketika kepala penisku “mengucapkan sumpah serapah” disertai muncratnya spermaku menyiram liang anusnya, nafasku bersahutan dengan nafasnya.
“Sialan….bikin kaget aja! Tolong Non“ Aku menyodorkan batang penisku yang sempat kaget dan pingsan kehadapan Nona Shasha, ia tertawa sambil menarik batang penisku.
“He hehe. duhhh kaciannnn…kaget yaaaaa??“ dengan penuh kasih sayang Nona Shasha membelai-belai batang penisku, dielus, dijilat dan dibelainya hingga penisku kembali berdiri dengan tegak perkasa, cuphh, satu kecupan kecilnya mampir di kepala penisku, lidahnya membelit melingkari kepala kemaluanku, mulutnya terbuka lebar menganga kemudian mencaplok kontolku, kubiarkan Nona Shasha bermain dengan batang kemaluanku yang semakin mengeras.
“Ujanggggg…aku di atas ya??“ Nona Shasha meminta agar aku terlentang di atas lantai kayu.
“Hemmmm?? Tapiii harus yang liar ya Nonnnnn!!“ aku bernegosiasi dengannnya.

“yeeee…, pake nawa segala, emangnya dipasar ?? “ Nona Shasha merangkak menaiki tubuhku yang tinggi besar seksi hitam legam, sungguh cocok jika aku yang “ganteng” ini bersanding dengan Nona Shasha yang cantik bertubuh mungil putih dan mulus, kedua tanganku mendekap pinggulnya, aku tersenyum ketika ia menarik penisku, kemudian diletakkannya kepala penisku di tengah-tengah rekahan bibir vaginanya, ada rasa geli yang menggelitik ketika kepala penisku mengulas belahan vaginanya, plesetttt…kepala penisku terpeleset ketika ia berusaha memasukkan batang penisku.
“Mau dibantuin Nonnn ??”
“Nggak…nggakkk usahhh….hampir masukkk…emmmmhh!” mata sipit Non Shasha membeliak lebar ketika aku menyentakkan batang penisku ke atas, tubuh mungilnya menggeliat indah, kedua tangannya bertumpu di dadaku, nafasnya tersendat-sendat ketika kedua tanganku menarik pinggulnya untuk turun dan duduk di kursi kenikmatan di selangkanganku. Aku menatap wajahnya yang merona merah, untuk beberapa saat kami berdua hanya diam saling berpandangan, tanganku mengusap-ngusap pinggangnya yang ramping.
“Ayoo Nonnn…tolong perkosa saya…he he he”
“begini ya janggg…cara merkosa kamu ?? hemmm“ Nona Shasha tertawa kecil sambil menekan kedua bahuku, kemudian ia mulai menaik turunkan pinggulnya.
“Lebihh cepat Nonnnn!!”
“Ini juga udah cepat janggg….mmmhhh Hssshhhh…aaaahhhhh.. crrrr crrrtttttt” belum begitu lama Nona Shasha menaik-turunkan pinggulnya tiba-tiba ia menjerit kecil, Shashaku yang seksi mencapai klimaks, aku mendekap tubuh mungilnya yang terkulai lemas, kupeluk erat tubuh mungilnya yang mulus, basah dan hangat.

“waduhhhh, padahal memek Non Shasha  baru turun naek sebentar, masa udah meledak lagi he he he” aku mengusap punggungnya yang berkeringat.
“Titit kamu kegedean sich Janggg…enakkk” Nona Shasha menggakui kekalahannya, telapak tangannya membelai pipiku dengan lembut, kuraih tangannya yang sedang mengelus pipiku kemudian kekecup tangannya dengan mesra, kedua tanganku merayap semakin turun, kutekan-tekan bokongnya sambil menyentak-nyentakkan batang penisku keatas, kusodoki vaginanya dengan gerakan-gerakan yang kuat dan teratur, kedua kakiku mengangkang menerima kehadiran tubuh mungil Nona Shasha yang terlungkup tanpa daya merintih diatas tubuh hitamku, hingga ia akhirnya kembali memekik kecil ketika batang penisku membuat cairan vaginanya meledak – ledak dengan nikmat. Vania merangkak dan berlutut di sisi kananku,
“Shaaaaa… geser dongggg…aku mauuuu!!” Nona Vania merengek agak Non Shasha turun dari atas tubuhku.
“Nggak bolehhhh…, he he he“ Nona Shasha menggoda Non Vania. Ia mengeluh ketika Vania mencubit pinggulnya yang sedang bergeser dari atas selangkanganku, Non Shasha memeluk tubuhku dari sebelah kiri, kepalanya bersandar di dadaku, sementara tanganku membelit memeluk tubuhnya yang mulus.
“nnnggggghhhhh.. mmmmppppphhhh…aaaaaaaaaaaahhhhhh!!” Nona Vania menggigit bibir bawahnya ketika kepala penisku bersusah payah menyelam ke dalam belahan vaginanya yang mungil sempit. Ia tampak menderita ketika perlahan-lahan kepala penisku membongkar belahan sempit di selangkangannya.
“Auhhhh.. uhhhhhhh……” tubuh Nona Vania tersentak-sentak ke atas ketika aku menyentakkan batang penisku berkali-kali kusodokkan penisku merojok-rojok belahan vaginanya. Nona Vania berusaha melawan sodokanku dengan memutar dan menghempaskan vaginanya ke bawah.

“Clepppp… cleppppp…. Cleppppp…. Nahhh ini baru benarrrr, hehehe, Non Shasha harus belajar dari Non Vania…Weissshhhtttt!“ aku kagum dengan kelihaian Non Vania, ia begitu liar menaik turunkan pinggulnya, jeritan-jeritan liarnya terdengar menggairahkan. Seiring dengan hempasan-hempasan vaginanya mendesak selangkanganku.
“Ahhhhhh!! Ahhhhhhh!!, ewe akuuuu, ohhhh terusss, entotttt!! Terus UJANGGG…terusssssss….yaaaaa…. UJANGG seperti ithuuu Ohhhh.., nikmatnyaa!!” jeritan-jeritan Vania semakin keras, ia memekik histeris ketika vaginanya disodoki oleh penisku.
“Woww!! Vania!“ Non Shasha berlutut di sisi Vania, ia bengong menatap  Vania yang begitu liar dan binal.
“Shaaaa…peluk akuu Shaaaa… pelukkkk!!” Nona Vania berusaha memeluk tubuh Non Shasha yang tampak risih ketika berpelukan dengan Nona Vania yang tengah diamuk nafsu birahi.
“Ehhhh…, iniii…ehhh aduhhh mmmhppphhhh” bibir Nona Vania mengulum bibir Non Shasha, tangan kirinya membelit tubuh mulus Non Shasha sementara tangan kanan Vania menggerayangi lekuk liku tubuh Non Shasha yang molek.
“Hmmmmm…Ckkkk…mmmmmhhh Vaniaaaa mmmmmpp.. ckk ckk “Non Shasha mulai membalas melumat bibir Vania, suara decakan-decakan mulai berkumandang dengan semakin keras ketika bibir mereka saling berpangutan.
“Jrebbb…Blessssshhh…bluesssshh jrebbbbb…cleppp” kuladeni hempasan-hempasan vagina Vania dengan merojokkan batang penisku kuat-kuat ke atas, kuhantam dan terus kuhantam liang sempit di selangkangannya.
“Owwwww…..Crrrrtttt!!” gerakan-gerakan liar Vania tiba-tiba berhenti, kepalanya bersandar di bahu Shasha, kedua gadis cantik bermata sipit itu saling berpelukan dengan mesra, Shasha memeluk tubuh Vania yang terkulai dan meringis lemah.

“UJANGG…pelan-pelann dong, kasihan Vania ihh!!” Nona Shasha memintaku memperlembut irama sodokan-sodokanku.
“Nnggg.. hakkss nggak apa Shaaaaa…nggak apa… ohhhh!!” Nona Vania memberikan lampu hijau untukku, aku tersenyum sambil menghentakkan penisku ke atas kuat-kuat.
“JROSSSHHHH….JREBBBBBB…JREBBBBBBBBBB….ooww!!” Nona Vania melolong liar ketika penisku menyodoki vaginanya dengan kasar, kulesatkan dan kupanah memek sempitnya dengan penisku yang masih mengacung perkasa tanpa mempedulikan lolongan-lolongan liar Non Vania.
Bergantian mereka menunggangi batang penisku yang memacu mereka hingga bergantian mencapai puncak klimaks, bahkan kini Nona Vania menjejalkan vaginanya ke mulutku, kucaplok vaginanya dan kulahap selangkangannya.
“Unnnhhhh…crrrr…crrrrr….” Nona Vania meledakkan cairan kewanitaannya cairan gurih itu meleleh ke dalam mulutku, kuseruput dan kutelan cairan gurih penambah tenaga itu, setelah berhasil menguasai diri Nona Vania meggeser tubuhnya ia berbaring di pelukanku sebelah kanan, kedua matanya terpejam rapat, bibir mungilnya tersenyum puas.
“aaaaaaaaa….crrrrrrrrr.. crrrrrrrrr” Nona Shasha ambruk menindihku, cairan vaginanya menyiram batang penisku, kupacu dan kurojokkan penisku kuat-kuat, kupacu vaginanya hingga tubuh mulusnya kelojotan menggeliat gelisah di atas tubuhku.
“Crooottttt…kecrootttttt!!” spermaku meledak berkali-kali di dalam vagina Shasha, kedua tanganku memeluk erat-erat tubuh mulus kedua gadis cantik berwajah oriental itu yang sudah terlebih dahulu terkulai puas, aku berbaring di atas lantai kayu sambil memeluk erat-erat tubuh mungil mereka yang putih mulus tanpa cela, sesekali tangan kedua gadis bermata sipit itu mengelus dan menarik-narik batang penisku sambil tertawa nakal.

(Hmmmmmm…, jadi cewe bule itu namanya…. )“ dalam hati kuukir nama seorang gadis cantik berambut pirang yang baru lulus kuliah dan bekerja diperusahaan XXXX tempatku mencari nafkah dan mencari kenikmatan ^_^, aku tersenyum sambil mengecupi kening Non Shasha dan Non Vania yang sudah  tertidur pulas, terlelap dalam pelukan nafsu liarku.